Sidoarjo, (bisnissurabaya.com) – Potret keadaan yang sebenarnya di lapangan sebelum memutuskan nama-nama kandidat yang bakal diusung dalam Pilkada, 9 Desember mendatang harus jadi acuan. Karena itu, Nur Ahmad Syaifuddin, mengklaim sudah mendapatkan dukungan dari 16 Majelis Wakil Cabang/MWC dan Badan Otonom/Banom NU se-Kabupaten Sidoarjo. Potret di lapangan inilah, yang ia harapkan kepada Dewan Pimpinan Pusat PKB untuk dipertimbangkan. “Alhamdulilah dan akan kami tambah terus,” kata Nur Ahmad Syaifuddin, saat menggelar Halal-Bihalal dengan MWC Tanggulangin dan Gedangan di Hotel Aston, Minggu (19/7).

Apalagi Nur Ahmad Syaifuddin, yang akrab disapa Cak Nur, ini mengaku sudah mendapatkan dukungan moril dari para kiai sepuh seperti Ketua PBNU, Said Agil Siradj dan Kiai Marzuqi. “Hasil Istiqaroh beliau-beliau memang begitu,” kata politisi yang saat ini menjabat sebagai Wakil Bupati Sidoarjo, itu. Soal pasangannya, pria yang akrab dengan panggilan Cak Nur, menegaskan masih berkomitmen dengan politisi Partai Gerindra, Hj Mimik Idayana. “Ini Ittihad saya karena antara kami sudah ada chemistry-nya,” imbuhnya.

Ditanya komentarnya, jika nantinya DPP PKB memasangkan pasangan dengan orang lain, Cak Nur mengatakan, itu masalah nanti. ‘’Nanti kita akan lihat dan istiqaroh lagi. Yang penting Ittihad saya saat ini dengan Bu Mimik,” tegasnya Soal rekom, Cak Nur, menyerahkan sepenuhnya pada kewenangan DPP dan tidak akan mendikte partai. Namun, ia berharap PKB bisa membuat keputusan terbaik sesuai dengan kondisi riil di lapangan berdasarkan hasil pengamatan dan survei yang dilakukan.

Sementara itu, politisi senior di PKB, Choirul Anam dan Maimun Siradj, mengatakan akan jauh lebih baik jika parpol yang didirikan Gus Dur itu menempatkan perempuan sebagai calon wakil bupati dalam Pilkada Sidoarjo nanti. Menurut dia, dukungan kaum hawa itu punya potensi besar untuk memenangkan pasangan calon yang bakal diusung PKB. “Biasanya komitmen perempuan itu lebih kuat dalam urusan ini. Dan jumlah mereka sangat besar,” ujar mantan anggota DPRD Sidoarjo periode 1999 – 2009 itu.

Hanya saja, ia menekankan, bahwa kaum perempuan yang dimaksudkannya harus berasal dari unsur kader murni PKB sendiri atau Banom NU, seperti Muslimat ataupun Fatayat. (rin)