Ngawi, (bisnissurabaya.com) – Dimasa pandemi covid-19, ritual Jamasan Pusaka berlangsung sederhana tapi sakral dan mengutamakan protokol kesehatan. Ritual dipimpin, Bupati Ngawi Budi Sulistyono, yang akrab disapa Kanang ini. Bupati Budi Sulistyono, mengatakan, jamasan pusaka itu adalah kegiatan rutin setiap tahunnya, dimana piandel Kabupaten Ngawi itu di jamas atau dicuci setiap tahunnya atau setiap memperingati hari jadi Kabupaten Ngawi.

“Ini merupakan sesuatu yang lebih bagi kita dimana Allah SWT memberikan kesempatan untuk kita semua untuk momong Kabupaten Ngawi ini sampai ke 662, sehingga pada saat ini kita harapkan kepada seluruh warga Ngawi untuk mengenang bagaimana berdirinya Kabupaten Ngawi. Mulai dari tidak ada pemerintahan sama sekali menjadi diadakannya pemerintahan dan akhirnya menjadikan kesejahteraan untuk kita semua,” kata Kanang di Ngawi Senin (6/7) lalu. Menurut dia, sebenarnya penemu piandel (Pusaka) itu belum jelas. Akan tetapi sejarah tentang pendirian Kabupaten Ngawi Ibu Kotanya tidak berada di Kabupaten Ngawi melainkan di Ngawi Purba.

 

“Bicara soal Filosofi dalam giat Jamasan pusaka ini adalah bagaimana kita mensucikan diri dan pusaka ini adalah Roh dari Kabupaten Ngawi. Untuk itu diharapkan agar semua ikut serta mensucikan roh kita, jiwa kita, fikiran kita, hati kita tujuannya agar mensucikan diri dari apa yang pernah kita alami selama ini. dan menjaga Kerukunan dan kebersamaan, serta mengupayakan pembangunan yang merata disemua lingkungan yang berada di Kabupaten Ngawi maupun disekitar Kabupaten Ngawi,” pungkasnya. Seperti diketahui, Jamasan Pusaka ini dilakukan setiap tahunnya menjelang peringatan berdirinya Kabupaten Ngawi.

Terdapat dua tombak jamasan pusaka antara lain, Kyai Singkir dan Kyai Songgolangit, serta dua Payung yakni Tunggul Wulung dan Tunggul Warono. Budaya jamasan pusaka ini merupakan warisan leluhur dimana menjadi budaya rutin setiap memperingati hari jadi Kabupaten Ngawi, setiap 2 tahun sekali diadakannya Kirab Jamasan Pusaka. Kirap pusaka yang dimaksud, budaya atau upacara boyongnya pusaka piandel kabupaten dari tempat pasinggahan dalem kabupaten diboyong ke Ngawi Purba, inap satu malam, dimana biasanya dihibur dengan pagelaran wayang. (eko)