Gresik, (bisnissurabaya.com) – Hiruk-pikuk pesta demokrasi pemilihan kepala daerah/Pilkada di Gresik mulai terasa. Pergerakan mobilisasi massa dari masing-masing pasangan calon sudah bergerak untuk memperoleh dukungan dari basis pemilih. Banyaknya baliho dan benner dari masing-masing calon di lokasi strategis bagian dari strategi untuk mengenalkan dan mengharap bakal calon dapat dukungan dari masyarakat. Roud show masing-masing bakal calon berebut cari simpati di kantong-kantong suara kaum nahdhiyyin dapat dilihat dari kegiatan silaturrahmi yang beraroma kampanye.

Tidak dapat dipungkiri kemenangan Partai Kebangkitan Bangsa/ PKB dalam pileg di pemilu 2019 dengan perolehan 13 kursi tak lepas dari dukungan suara kaum nahdhiyyin. Ini menandakan kerja mesin politik PKB berjalan sesuai harapan. Yaitu, memenangkan pileg 2019. Kemenangan PKB merupakan hasil kerja kolektif pengurus partai mulai jenjang cabang sampai ranting terkonsolidasi dengan baik.

Sehingga memperoleh kemenangan. Peran Ketua DPC PKB di kota santri ini tentu mendapat apresiasi atas kemenangan tersebut, terlepas dari sikap like and dislike antar pengurus. Soliditas suara PKB dalam meraih kemenangan di pilkada nanti akan mengalami perubahan, dikarenakan munculnya dua bakal calon dari kader PKB. Yaitu, Dr Moh Qosim, Wabup Gresik dan Fandi Ahmad Yani yang menjabat Ketua DPRD periode 2019-2024. Munculnya dua bakal calon dari internal PKB dapat mempengaruhi soliditas suara PKB yang berbasis nahdhiyyin untuk menjatuhkan pilihannya disaat pilkada nanti. Ini tergantung dari masing-masing bakal calon untuk memperoleh simpati.

Apakah Ketua DPC PKB Gresik, Dr Moh Qosim, dapat mempertahan soliditas suara kaum nahdhiyyin. Atau sebaliknya, Fandi Ahmad Yani yang akrab disapa Gus Yani, ini dapat memecah suara kaum nahdhiyyin dalam pilkada nanti.
Gus Yani, memang belum memperoleh tiket untuk ikut kontestan dalam Pilkada Gresik. Namun, dari konsolidasi dan safari politiknya ke Partai PDI-P, Demokrat, Nasdem, Golkar, PPP dan PAN hampir semua partai memberikan sinyal untuk memberikan surat rekomendasinya kepada Gus Yani, kecuali Partai Golkar masih belum mengambil sikap politik.

Konsolidasi internal dibutuhkan saat kondisi partai mengalami hambatan atau kebuntuan dalam komunikasi politik. Jika terlambat akan merugikan partai itu sendiri. Konsolidasi partai adalah kunci sukses untuk meraih kemenangan di setiap pesta demokrasi. (Mas’ud Hakim, M.Si., Direktur Eksekutif LSM Partisipasi Akar Rumput atau PiAR)