Surabaya, (bisnissurabaya.com) – “Deket Nolho Dopi Gala, Deket Murine Tulis Baca. Artinya Dahulu Hidup dengan Kekerasan dan Hidup. Sekarang Lebih Banyak dengan Membaca dan menulis” Pepatah dalam bahasa Adonara itulah yang dipegang teguh oleh Maksimus Lewogete, sebelum berangkat merantau ke Surabaya, menyusul kakaknya yang lebih dulu kuliah di Universitas PGRI Adi Buana, pada 2014 silam.

Dia menumpang kapal laut Omsini dari Pelabuhan Larantuka dengan membeli ticket seharga Rp 350.000. Maksimus, adalah putra ke empat dari lima bersaudara, yang dilahirkan pasangan Simon Lewogete, dan Maria Uto Beda. Ia putra asli pulau Adonara, tepatnya dari Desa Puguh, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur/NTT. Pulau adonara konon tercipta dari letusan Gunung Boleng, di pulau ini terdapat delapan kecamatan, dan memiliki empat pantai yang indah. Antara lain Watuteno, Inaburak (pasair putih), Deri (pasir hitam), dan Wera Mean (pasir merah).

Hasil laut berupa aneka ikan, rajungan dan lobster sangat melimpah dipulau ini, semuanya bisa dengan mudah dan murah didapatkan setiap hari di Pasar Waiwerang. “Awalnya saya melihat keindahan Surabaya hanya levat TV, kini bisa melihat langsung,” kata mahasiswa Adonara, Maksimus Lewogete, kepada bisnissurabaya.com, di Surabaya Jumat (10/7) pagi. Begitu kapal bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak, Maksimus menyempatkan diri melihat keindahan Surabaya dari atas kapal, dia menyaksikan banyak gedung indah menjulang tinggi. Penikmat wata kanaen/ jagung tumbuk khas Adonara ini merasa sangat kagum dengan kota tempat Bung Karno dilahirkan.

Nama besar dan kisah perjuangan Sang Proklamtor dan orator hebat ini juga menjadi pendorong bagi Maksimus, untuk belajar di Surabaya. “Saya banyak membaca kisah sejarah Bung Karno saat diasingkan di Ende, terutama saat menemukan gagasan besar Bhineka Tunggal Ika dibawah sebuah pohon,” jelas Humas Ikatan keluarga Adonara di Surabaya. Di kota ini, Maksimus, menempuh pendidikan di Universitas Narotama dan Universitas Kartini. Dia dengan mudah menyesuaikan diri dengan kehidupan masyarakat Surabaya yang terkenal ramah, sopan, dan egaliter.

Tidak hanya itu dia juga terpesona dengan makanan khas rawon, dan kecantikan arek Suroboyo. “Walaupun punya pacar dari Adonara, saya tetap mengidolakan perempuan Jawa, khususnya Surabaya, tambah penganut Katolik yang taat ini. Selain kuliah, Maksimus juga pernah bekerja di hotel dan karaoke. Dia menyempatkan, diri aktif di organisasi pergerakan mahasiswa, serta Persatuan Keluarga Adonara di Surabaya yang bermarkas di Jalan Jedong.

Walaupun mempunyai cita-cita yang mulia ingin pulang kampung dan membangun kampung pasca kuliah nanti, namun, sesungguhnya dia lebih senang jika diberi kesempatan untuk bisa ikut membangun Surabaya dengan menjadi pegawai Pemerintah Kota. “Saya ingin menghadap Ibu Risma, menyampaikan bahwa saya dan kawan-kawan siap diberi kesempatan membangun Surabaya,” pungkas Maksimus. (nanang)