Jakarta, (bisnissurabaya.com) – Pemanfaatan Sistem Resi Gudang untuk komoditas Gabah dan Beras diproyeksikan mengalami pertumbuhan pada semester dua ini. Pertumbuhan tersebut diperkirakan karena proyeksi musim tanam dan panen di semester dua. Penegasan itu dikemukakan Kepala KBI e-ducentre, Diah Yulinda Wulandari, di Jakarta Kamis (9/7) siang. Menurut dia, KBI e-ducentre sendiri merupakan lembaga yang diinisiasi oleh PT Kliring Berjangka Indonesia/KBI, yang dalam kegiatan operasionalnya adalah menerbitkan hasil riset yang dilakukan. Baik itu terkait perdagangan berjangka komoditi, pasar fisik komoditas maupun sistem resi gudang/SRG.

Ia mengatakan, selain faktor bahwa masyarakat mulai bergerak di new normal, pihaknya melihat bahwa sosialisasi yang dilakukan pemerintah kepada masyarakat terkait pemanfaatan SRG ini akan cukup mempengaruhi pertumbuhan SRG khususnya Gabah dan Beras. Masyarakat khususnya petani dan pemilik komoditas mulai memahami manfaat SRG. Terkait pemanfaatan SRG Gabah, data dari PT KBI sebagai pusat registrasi resi gudang menyebutkan, pada 2019 pemanfaatan SRG untuk komoditas gabah mencapai 289 RG dengan volume 5.208.427 kilogram. Adapun nilai pembiayaannya mencapai Rp 19.182.262.966. Sedangkan pada 2020 (Januari – Mei), jumlah resi gudang gabah yang diterbitkan mencapai 53 SRG dengan volume 1.371.773 kilogram, dan dengan nilai pembiayaan sebesar Rp 6.009.500.000.

Sedangkan untuk komoditas beras, di tahun 2019 tercatat penerbitan SRG sebanyak 67 dengan volume 5.208.427 kilogram dan nilai pembiayaan sebesar Rp 19.182.262.966,- Sedangkan untuk 2020 (Januari – Mei), jumlah resi gudang beras yang terbit sebanyak 11 RG dengan volume 840.500 kilogram, dengan nilai pembiaayaan sebesar Rp 5.552.801.500. Proyeksi yang dilakukan KBI e-ducentre tidak terlepas dari mulai bergeraknya ekonomi Indonesia di fase new normal setelah wabah covid-19. Sebelumnya, riset Morgan Stanley, menyebutkan bahwa ekonomi Indonesia akan tumbuh mulai Quarter 2/2020, dan akan terus berlanjut sampai akhir 2020. Dari sisi produksi gabah dan beras, pemerintah untuk 2020 juga telah mentargetkan luas tanam padi seluas 11,66 juta hektar, yang berpotensi menghasilkan 33,6 juta ton beras. Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Pertanian juga mencanangkan gerakan percepatan tanam pada April-September 2020.

Diah menambahkan, melihat trend serta berbagai faktor yang ada, kami proyeksikan sampai akhir 2020, pemanfaatan SRG baik untuk gabah maupun beras akan mengalami pertumbuhan yang positif dibandingkan 2019. “Melihat proyeksi situasi yang ada di semester II, kami juga merekomendasikan kepada para petani untuk memanfaatkan SRG ini. Hal ini sebagai upaya untuk menjaga stabilitas harga gabah dan beras yang cenderung turun saat panen,” tambah Diah Yulinda Wulandari. (bw)