Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Jumlah peserta UTBK di Unair yang reaktif bertambah 20 orang Selasa (7/7) kemarin. Kini, selama tiga hari pelaksanaan ujian ini ada 55 peserta yang reaktif. Peserta yang reaktif ini akan menjalani uji SWAB dan akan diikutkan pada gelombang kedua yang akan dilaksanakan 20 – 29 Juli mendatang. Hingga hari ketiga pelaksanaan ujian berbasis komputer atau UTBK SBMPTN di Universitas Airlangga Surabaya ada 55 peserta yang gagal ikut ujian sesuai jadwal.

Peserta ini, gagal mengikuti ujian karena hasil rapid tesnya dinyatakan reaktif. Sebelumnya, pada hari pertama UTBK di Unair ada 35 peserta yang reaktif. Dihari kedua ada 19 yang dinyatakan reaktif dan di hari ketiga ini baru ada satu yang reaktif. Sehingga total reaktif ada 55 peserta.

Secara otomatis mereka ditolak untuk mengikuti ujian SBMPTN. Padahal, setiap hari rata-rata ada 200 peserta UTBK yang melakukan rapid tes di kampus Unair. Mereka yang reaktif ini setelah menjalani rapid tes yang disediakan panitia UTBK di lokasi ujian akan dikembalikan ke daerah asalnya untuk isolasi mandiri dan uji SWAB. Peserta yang reaktif bisa ikut gelombang kedua yang akan dilaksanakan 20 hingga 29 juli mendatang dengan syarat non reaktif rapid tesnya. ‘’Hari yang kedua ini total terdaftar sekitar 1.175 kemudian yang melakukan pemeriksaan on side untuk rapid tes ini ada 251 dan ada 19 yang reaktif.

Hari ketiga masih dalam pendataan kalau lihat 100-an orang sudah melakukan rapid tes dan didapatkan satu memang yang reaktif dan bagi mereka yang reaktif pada prinsipnya mereka orang muda dan suhu tubuhnya tidak lebih dari 37, 5 dan tidak ada gejala kita masukkan dalam OTG dan nanti akan dilakukan SWAB PCR untuk menghindari terjadinya pemaparan covid 19 ke yang lain,’’ kata Ketua UTBK Unair Surabaya Prof Junaidi Khotib, di Surabaya Selasa (7/7). Dalam sehari, ada sekitar 2.350 peserta yang mengikuti UTBK di Unair. Dari 2.350 peserta ini dibagi dalam dua sesi ujian setiap harinya. Sementara, total peserta ujian UTBK di Unair pada gelombang pertama ini sebanyak 23.000 orang. (irwanda/stv)