Bukan Tinggal Glanggang Colong Playu, Memahami Langkah Armuji

135

Surabaya, (bisnissurabaya.com)
Politik adalah seni segala kemungkinan. Begitu kata orang tentang doktrin politik. Adagium (pepatah) itupun terbukti, beberapa waktu yang lalu, dunia perpolitikan di Surabaya, dikejutkan dengan pernyataan mundur Armuji, dari pencalonan bakal calon/balon wakil wali kota/Wawali.
Anggota DPRD Jawa Timur/Jatim ini adalah salah satu balon yang siap bertanding merebut tiket PDI Perjuangan, namanya disebut-sebut hendak digandengkan dengan Eri Cahyadi, yang saat ini menjabat Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya.

Armuji, menyatakan alasan ia mundur, karena ingin fokus menangani virus corona di masyarakat. Selain itu, pria yang akrab disapa Cak Ji, ini menyebut ada beberapa temannya sesama kader PDI Perjuangan di kepengurusan DPC PDI Perjuangan Surabaya, tidak menghendaki dirinya maju berlaga di Pemilihan Wali Kota/Pilwali 9 Desember 2020.
Berkali-kali timnya ditegur saat melakukan sosialisi maupun konsolidasi. Walau begitu dia, bersikap tetap patuh apapun instruksi Ketua Umum DPP PDI Perjuangan. “Ada beberapa pengurus DPC yang ingin maju, tapi tidak mau mendaftar. Mereka yang punya syahwat,’’ kata Cak Ji, di Surabaya Sabtu (4/7) lalu. Ia menyatakan, mereka yang sekarang ini menghalang-halangi untuk berkonsolidasi lebih baik dirinya memilih mundur.

Karir Armuji di PDI Perjuangan terbilang moncer. Alumnus ITATS ini pernah menjabat sebagai Ketua PAC PDI Perjuangan di Kecamatan Sukolilo dan Wonokromo. Pada tingkat kota, pernah menduduki posisi Wakil Ketua DPC, Pelaksana Harian/Plh Ketua, dan Sekretaris. Sementara ditingkat provinsi, dia pernah terpilih sebagai salah satu Wakil Ketua mendampingi Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim, Kusnadi.
Untuk jabatan di legislatif pun terbilang lengkap. Pengabdiannya sebagai wakil rakyat dimulai pada periode masa jabatan 1999-2004, dilanjutkan 2004-2009, 2009-2014, 2014-2019. Berbagai jabatan di DPRD Surabaya pun pernah disandangnya. Mulai Ketua Fraksi, Ketua DPRD, Wakil Ketua DPRD Surabaya dan beberapa Ketua Komisi.

Pada saat menjabat sebagai Plh Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya itulah, warga Ngagel Mulyo ini berhasil melengserkan Ketua DPRD Surabaya, Mochammad Basuki, rekan separtainya yang tersandung kalimat ‘Kalau Ingin Kaya, Jadilah Politikus’. Pada Pemilu 2019, Armuji, mencoba peruntungan maju berlaga di pemilihan legislatif Jatim.
Dia bertarung di Dapil 1 Surabaya, yang dianggap banyak orang sebagai neraka, karena para pendekar politik dari partai besar menyabung diri disini. Pada perhelatan politik ini, reputasi politik Armuji, diuji. Ternyata perolehan suaranya sangat signifikan. Dia berhasil mengantongi 136.308 suara. Angka tertinggi dipartainya, mengalahkan Sri Untari, dengan 112.065 suara, Wara Sundari Renny Pramana 97.379 suara, dan Kusnadi, dengan 50.008 suara.
Di momen Pilwali Surabaya, Armuji, kembali ingin berlaga. Dia mendaftar bakal calon wakil wali kota/bacawawali, mengikuti penjaringan dan penyaringan dipartai moncong putih, partai tempat bernaung selama ini. Lewat spanduk dan baliho besar yang terpasang di jalan-jalan, tampak ada keinginan untuk dipasangkan dengan Eri Cahyadi.

Berbagai kegiatan sosialisasi kepada masyarakat gencar dilakukan. Mulai senam massal, pembagian sembako, hingga tour Wali Limo. Dari masifnya kegiatan kampanye, Armuji, seakan yakin bahwa Eri Cahyadi, yang akan direkom, dan dia akan ditunjuk sebagai wakilnya. Namun, seperti petir di siang bolong, pada Sabtu (4/7) Armuji tiba-tiba mundur dari pencalonan sebagai bacawawali.
Mundurnya Armuji, mungkin bukan sesuatu yang fenomenal, karena itu hak politiknya sebagai kader. Namun yang menjadi persoalan, adalah tudingan adanya beberapa Pengurus DPC PDI Perjuangan Surabaya yang berusaha menjegalnya. Sekretaris DPC, Baktiono, Wakil Sekretaris Bidang Internal, Anas Karno, dan Wakil Sekretaris Bidang Eksternal, Achmad Hidayat, akhirnya membuat pernyataan menghadapi manuver politik Armuji.
Terutama bantahan berkaitan dengan tudingan adanya Pengurus DPC yang berusaha menjegal, juga surat pernyataan yang sampai saat ini tidak kunjung diterima DPC Surabaya. Apapun yang dilakukan Armuji, tidak banyak yang tahu apa penyebab dan tujuannya. Apakah memang benar karena banyak pengurus yang berusaha menjegalnya, atau karena dia sudah merasa yakin rekomendasi bacawawali tidak bakal jatuh ketangannya.
Namun, yang jelas sosok Armuji, memang bukan anak kemarin sore di kancah politik di Surabaya, dia sudah kenyang makan asam garam politik. Barangkali Armuji ingin menunjukkan kepada publik bahwa politik benar-benar seni segala kemungkinan. (nanang)