Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Di masa pandemi Covid-19 ini menuntut seluruh warga Indonesia untuk bergotong-royong, solidaritas bersama dalam menjaga anggota keluarga agar tidak terpapar Covid-19. Hal itu, dikemukakan Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur, Drs. Sukaryo Teguh Santoso, M.Pd, di Surabaya Senin (6/7). Ia menjelaskan, sesungguhnya, peringatan Harganas ini merupakan bagian tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang pelaksanaan Program KB di Indonesia sejak 1970, yang saat ini genap 50 tahun yang kita kenal dengan sebutan program Bangga Kencana.

Sesuai dengan Kebijakan Nasional Bidang Dalduk KB 2020-2024, bahwa program Bangga Kencana, diarahkan untuk meningkatkan SDM berkualitas dan berdaya saing, dan revolusi mental dan pembangunan kebudayaan. Dua agenda tersebut, merupakan bagian dari 7 Agenda prioritas Pembangunan Nasional 2020-2024. Kebijakan nasional tersebut sebagai upaya untuk menyongsong terwujudnya Bonus Demografi 2020-2030 dan Indonesia Emas 2045.

Kasus Stunting, kata dia, juga harus menjadi perhatian bersama, karena merupakan bagian dari pembangunan manusia. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada 2018, prevalensi stunting balita umur 0 sampai 59 bulan di Jatim mencapai 32,81 persen. Angka ini lebih tinggi dari prevalensi stunting nasional yakni sebesar 30,8 persen. Penguatan program Bangga Kencana menjadi sangat strategis dalam upaya pecegahan stunting, mulai dari program Pendewasaan Usia Perkawinan, Pengaturan Kelahiran, Pembinaan Ketahanan Keluarga, dan Peningkatan Kesejahteraan Keluarga. Ia mengajak remaja untuk tetap memperhatikan kesehatan reproduksi demi masa depan mereka apalagi di masa pandemi ini. Maraknya pernikahan usia anak masih banyak terjadi di Jawa Timur. Menurut data kehamilan remaja memang menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun tetapi masih perlu perjuangan untuk dicegah. Berdasarkan data Susenas 2018, Angka fertilitas kelompok usia muda ASFR (Age Specific Fertility Rate) pada usia 15-19 tahun yang sudah pernah melahirkan adalah sebesar 30 per 1000 wanita.

Hal ini dapat meningkatkan jumlah kematian ibu dan kematian bayi. Di tempat yang sama, Ketua TPP PKK Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak, mengatakan Karena keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat sekaligus wahana pertama dan utama bagi penyemaian karakter bangsa. Keluarga adalah pilar pembangunan bangsa. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang mempunyai peranan penting dalam memenuhi kebutuhan “Asah, Asih, dan Asuh”, sebagai implementasi pelaksanan Fungsi Keluarga. Karena itu, keluarga menjadi ajang yang paling sempurna untuk menanamkan nilai delapan (8) Fungsi Keluarga.

“Dalam situasi pandemi COVID-19 di Jatim mengingatkan akan adaya fenomena Baby Boom di tengah pandemi Covid-19,” kata Arumi. Upaya pencegahan Covid-19 seperti bekerja dari rumah dan #stayathome membuat masyarakat tidak leluasa mengakses pelayanan kontrasepsi atau KB. Sehingga, 7.937.774 Pasangan Usia Subur (PUS) menjadi tidak terlindung kontrasepsi dan menjadi target terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). Potensi ini tidak bisa diabaikan, karena tanpa pencegahan konkret bayi yang lahir akan menjadi pekerjaan rumah 15-20 tahun ke depan. Untuk itu, melalui program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) dapat menumbuhkan rasa kepedulian dan tanggung Jawab di masa depan. Dengan dasar itulah maka pelayanan KB di puncak peringatan Hari Keluarga Nasional ini menjadi suatu momentum awal atas dimulainya geliat pelayanan KB menuju new normal yang beberapa waktu lalu sempat tertahan. (bw)