Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Meski kota surabaya dikenal dengan wilayah zona merah dan menjadi episentrum terbesar penyebaran covid-19 di Jawa Timur/Jatim, namun, ternyata masih ada kampung yang zero penyebarannya sejak awal wabah dinyatakan sebagai pandemi maret lalu. Bagaimana cara warga tetap menjaga masyarakat tetap sehat dan bebas dari wabah virus asal wuhan china ini.

Inilah suasana sebuah kampung di jalan Kranggan Gang 5 Kecamatan Bubutan Surabaya. Sekilas, memang tak ada beda dengan kampung lainnya. Namun, sejak diumumkan sebagai pandemi awal Maret lalu, dengan menerapkan protokol  ilmu yang ketat, sebuah kampung di RW 01 pancasila ini masih zero covid-19, atau tak ada warga yang terjangkit virus corona.

Setiap harinya, kampung Kranggan gang 5 ini tetap menerapkan protokol kesehatan, meski pembatasan sosial berskala besar atau psbb di surabaya berakhir dan menuju transisi new normal. Setiap warga maupun pendatang yang hendak memasuki kampung, wajib melewati sejumlah protokol kesehatan yang meliputi wajib memakai masker pendeteksian suhu tubuh dengan termo gun hingga penyemprotan desinfektan kendaraan.

Selain itu, kampung ini sengaja memasang alat sterilisasi desinfektan sepanjang 162 meter, untuk membunuh virus covid-19 yang dimungkinkan menempel pada setiap warga pendatang maupun kendaraan. Alat sterilisasi desinfektan sepanjang 162 meter ini, dilengkapi dengan 40 titik fetting spray, dengan rentan jarak 4 meter. Sehingga penyemprotan disinfektan juga dianggap efektif untuk membunuh virus asal wuhan china tersebut. Spray disinfektan ini dinyalakan 2 kali sehari pagi hari sebelum warga beraktifitas kerja dan sore hari saat warga pulang kerja.

Ketua RW 01 Kranggan Kecamatan Bubutan Surabaya, Ridi Sulaksono, memastikan sekitar 1.000 lebih warganya yang tinggal di 12 RT wilayah Kranggan, bebas dari covid-19. Sementara untuk 5 sampai 10 kacang yang digantung di rumah-rumah setiap hari, memang sebagai bentuk kesepakatan swadaya dari seluruh warga untuk meringankan beban warga kampung yang memang terdampak covid-19, dari segi pendapatan maupun usaha mandiri yang memang menurun drastis dimasa pandemi covid-19.

Upaya pihak RT dan RW mendapat apresiasi dari warga, meski tak mudah menjalankan protokol kesehatan dan melakukan pola hidup bersih sesuai aturan pemerintah. Sementara itu, sebagai upaya membentuk ketahanan pangan di kampungnya, RW 01 kranggan surabaya yang membawahi 12 RT juga membuat kebijakan bagi warganya untuk menggantung 5 sampai 10 biji kacang yang digantung di depan rumah.

Biji kacang tersebut lantas di ambil oleh ibu-ibu pemberdayaan kesejahteraan keluarga atau pkk kemudian diolah menjadi camilan dan dijual di warung-warung yang ada di sekitar kampung kranggan. Uang hasil penjualan kacang tersebut, selanjutnya digunakan untuk membeli sembako dan 50 bungkus nasi serta wedang pokak, untuk dibagikan kepada warga kampung yang membutuhkan/ serta untuk beaya operasional disinfektan selama masa pandemi covid 19. (farid/stv)