Sidoarjo, (bisnissurabaya.com) – Wisata sejarah berupa candi menjadi salah satu destinasi wisata di Kota Delta. Meski menjadi salah satu situs yang dicatat di Badan Pelestarian Cagar Budaya/BPCB Trowulan, Jawa Timur/Jatim, namun keikutsertaan masyarakat desa untuk bisa menggairahkan obyek wisata itu harus dilakukan. Misalnya, Candi Dermo di Desa Candinegoro, Kecamatan Wonoayu.

Salah satu peninggalan sejarah dari Kerajaan Majapahit itu bisa menjadi magnet wisatawan lokal dan mancanegara. “Jika dikelola dan melibatkan masyarakat desa setempat hasilnya akan luar biasa,” kata Bakal Calon Bupati/Bacabup Sidoarjo, Achmad Amir Aslichin, saat berkunjung ke Candinegoro.
Bacabup Sidoarjo yang akrab disapa Mas Iin berharap kedepan BPCB bersama pemerintah desa/pemdes dapat bekerjasama dalam pelestarian cagar budaya. “Potensi dan ikon desa berupa candi harus dilestarikan,” kata anggota Komisi B DPRD Jatim ini.

Anggota Fraksi PKB DPRD Jatim, ini ingin agar pembinaan untuk desa terkait pelestarian cagar budaya juga dilakukan. Potensi sejarah yang ada di candi itu bisa jadi daya tarik bagi wisatawan. “Kami ingin peninggalan bersejarah ini diangkat kembali agar anak cucu kita kelak dapat menikmati,” ucap mantan Ketua Fraksi PKB DPRD Sidoarjo dua periode itu.
Menurut alumnus Universitas Airlangga ini, cagar budaya telah dikelola pemerintah. Sehingga masyarakat desa juga perlu dilibatkan untuk merawatnya.

Demi kemajuan dan pengembangan kebudayaan. Pengelolaan cagar budaya perlu dijaga, diberdayakan, dibina, dilestarikan, dan dikembangkan, supaya dapat berdaya guna. “Pemdes harus dilibatkan dalam pengembangan cagar budaya ini. Kedepannya dapat memunculkan potensi ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat desa,” ucapnya. Salah seorang petugas dari cagar budaya, Hadi, menjelaskan Candi Dermo dibangun pada 1353 di bawah kepemimpinan Adipati Terung. Makamnya berada di utara Masjid Trowulan.

“Sebenarnya candi ini adalah sebuah gapura atau pintu gerbang, yaitu gapura ke bangunan suci. Dulu, di sebelah timur candi terdapat bangunan induk yang ukurannya lebih besar. Namun, seiring berjalannya waktu, bangunan itu sudah pupus dan akhirnya roboh,” ungkap Hadi, di area Candi Dermo. (rin)