Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Siap bertarung di Pemilihan Kepala Daerah/Pilkada tahun ini. Mungkin benar kata-kata yang berkembang di masyarakat dewasa ini, Surabaya yang karakter penduduknya keras, pemberani, dan pantang menyerah, tetap membutuhkan sosok seorang ibu yang lembut untuk menjadi walikota.

Karena pembawaan dan naluri seorang ibu, mampu mengayomi banyak orang. Selain Tri Rismaharini, yang menjabat wali kota Surabaya, PDI Perjuangan memiliki banyak stok bakal calon walikota maupun bakal calon wakil walikota perempuan pada pilkada serentak Desember mendatang. Sebut saja, Sri Setyo Pertiwi, Dyah Katarina, dan Lia Isthifama.

Sri Setyo Pertiwi, yang akrab disapa Ning Tiwi, ini merupakan sosok yang menarik. Perempuan cantik berlatar belakang pengusaha sukses ini, memutuskan untuk ikut running di pilwali Surabaya tahun ini karena merasa terpanggil. Untuk memenuhi keinginan warga yang tetap membutuhkan sentuhan seorang walikota perempuan dalam memimpin Surabaya kedepan.

Berbekal kemampuan managerial yang dimiliki selama memimpin beberapa perusahaan ekspor-impor miliknya, ditambah dengan pengalaman di organisasi yang ditekuninya, ibu yang terlihat energik ini semakin mantap dan siap mengabdikan diri pada kota yang dicintainya.

“Saya berangkat dari PDI Perjuangan, dan siap mengikuti semua tahapan,” kata bakal calon Wali Kota Surabaya, Sri Setyo Pertiwi, di Posko Pemenangan Ning Tiwi, Selasa (16/6). Sembari menunggu turunnya surat rekomendasi dari Dewan Pimpinan Pusat/DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan/PDI Perjuangan di Jakarta, Ning Tiwi, getol melakukan kegiatan kerakyatan di masyarakat.

Seperti, bakti sosial pembagian ribuan paket sembako dan susu. Semua kegiatan kemanusiaan yang mengusung thema menangis dan tertawa bersama rakyat itu dirancang dan dikoordinasikan bersama tim di posko pemenangan di daerah Darmo Permai Selatan yang diresmikannya bulan lalu.

“Selain partai moncong putih, saya tidak mendaftar lewat partai manapun. Karena aku bukan type orang yang suka tolah-toleh,” jelas perempuan berhijab ini. Untuk mewujudkan visi Masyarakat Surabaya Sejahtera, Makmur, dan Damai, Ning Tiwi, menggandeng politisi senior dari PPP, Andi Soedirman, sebagai mentornya.

Penjabaran teknis terkait visi-misi dipercayakan penuh kepada mantan Anggota DPRD Surabaya periode 1982-1987 dan 1987-1992 tersebut. Politisi dari Sulawasi Selatan itu yang akan menutupi segala kekurangan yang ada pada sosok Ning Tiwi, saat memimpin Surabaya kedepan.

Menurut Andi Soedirman, Surabaya saat ini sangat maju. Namun, masih saja ada kekurangan disana-sini. Contohnya, masalah banjir dan kemacetan yang masih menjadi masalah klasik dan menahun. Belum lagi masalah sampah yang makin meningkat kwantitas dan kualitasnya.

“Sesuai konsep yang dirancang oleh Pak Andi, kedepan pemilahan sampah dimulai dari rumah tangga. Nanti, dianggarkan dalam APBD pembelian kantong sampah 2 warna untuk diberikan kepada penduduk,” tambah Ning Tiwi.

Program lain yang menjadi konsentrasi Ning Tiwi, adalah peningkatan status kawasan eks Dolly menjadi sentra ekonomi yang mengangkat potensi kuliner dan produk UMKM berbasis kearifan lokal. Seperti semanggi, lontong kupang, lontong balap, dan rujak cingur.

Selain itu, dia akan memberikan edukasi kepada masyarakat mengembangkan sikap bertanggung jawab. Terutama untuk menjaga kedisipinan diri dalam penerapan protokol kesehatan di musim pandemi corona. Sebab perilaku masyarakat yang ada sekarang, seperti orang yang baru terbebas dari beban berat bertahun-tahun yang kemudian berlaku semaunya sendiri, tanpa memperhitungkan akibatnya. (nanang)