Jakarta, (bisnissurabaya.com) – Kemitraan strategis yang dilakukan ini, merupakan bagian dari peran PT Kliring Berjangka Indonesia/KBI yang memiliki peran untuk menjadi akseletator ekonomi nasional. Khususnya dalam mendukung pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang dalam hal ini nelayan dan pengusaha perikanan. Direktur Utama/Dirut PT KBI, Fajar Wibhiyadi, mengatakan, tidak stabilnya harga komoditas ikan, yang pertama paling terkena dampak adalah para nelayan. Dan dengan adanya pemanfaatan sistem resi gudang ikan ini, kedepan harapan kami stabilitas ikan akan terjaga, dan akan berdampak ke tingkat ekonomi para nelayan.

Potensi sektor perikanan Indonesia sangat besar, dan kami berharap dengan kemitraan strategis ini, akan menjadi pendorong terkait peran sektor perikanan dalam ekonomi nasional. Dalam kemitraan strategis ini, PT KBI berperan dalam menyediakan sarana dan prasarana Kliring dan Penjaminan Transaksi serta Registrasi Resi Gudang komoditas ikan. Selain itu, PT KBI maupun melalui anak usahanya akan mengupayakan untuk menyediakan plafon pembiayaan penyerapan ikan Mitra dalam Sistem Resi Gudang. Sedangkan Perinus, melalui Mitra-mitranya akan menyediakan komoditas ikan yang dimasukan ke dalam skema Resi Gudang.

Terkait potensi kelautan dan perikanan, Presiden Joko Widodo, di awal 2020 pernah menyampaikan, bawah potensi kelautan Indonesia bisa mencapai Rp 15.000 Triliun per tahun. Namun, sektor perikanan hanya menyumbang sekitar 3 persen dari PDB nasional. Angka yang relatif sangat kecil apabila dibandingkan dengan potensi yang ada. Dilain sisi, Sektor perikanan Indonesia yang memiliki potensi besar, ternyata tidak berbanding lurus dengan ekonomi para nelayan.

Data Survey Sosio Ekonomi Nasional/SUSENAS tahun 2017 menunjukkan, nelayan di Indonesia sebagai salah satu profesi yang secara ekonomi kurang baik, dimana sebanyak 11,34 persen orang di sektor perikanan tergolong dalam ekonomi yang berpendapatan rendah. Potensi pengembangan Sistem Resi Gudang khususnya untuk komoditas ikan Indonesia terbilang cukup besar. Dengan 70 persen wilayah Indonesia yang berupa lautan, Sistem Resi Gudang ikan merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan nilai komoditas ikan serta kesejahteraan nelayan. Resi Gudang sendiri adalah dokumen surat berharga atas komoditas yang disimpan di gudang yang terdaftar di Pusat Registrasi (Pusreg) Resi Gudang.

Untuk saat ini, satu-satunya Pusat Registrasi Resi Gudang adalah di PT KBI. Perusahaan BUMN plat merah ini mendapatkan izin dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappepti) sebagai Pusat Registrasi yang memiliki fungsi pencatatan, penyimpanan, pemindahbukuan kepemilikan, pembebanan hak jaminan, pelaporan serta penyediaan sistem dan jaringan informasi Resi Gudang dan Derivatif Resi Gudang. Selanjutnya, Fajar Wibhiyadi menambahkan, sebagai pusat registrasi resi gudang yang ditunjuk pemerintah, KBI kedepan akan terus melakukan sosialisasi terkait pemanfaatan instrumen ini. Masih banyak petani maupun nelayan serta pemilik komoditas yang belum memahami apa keuntungan memanfaatkan sistem resi gudang.

Dan ini adalah pekerjaan rumah bersama bagi para pemangku kepentingan di sektor ini”. Data PT KBI, sepanjang 2019 tercatat penerbitan 444 Resi Gudang senilai Rp 113,3 Miliar dengan nilai pembiayaan sebesar Rp 61,7 Miliar. Sedangkan di tahun 2020 dari Januari sampai dengan Mei, tercatat penerbitan 110 Resi Gudang senilai Rp 71 Miliar, dengan nilai pembiayaan sebesar Rp 25 Miliar. Adapun komoditas yang telah dibiayai dengan sitem resi gudang ini meliputi Gabah, Beras, Jagung, Kopi, Rumput Laut, Garam, Lada, serta timah.

Fajar Wibhiyadi, menambahkan, “Dengan adanya kemitraan strategis dalam Sistem Resi Gudang dengan Perinus ini, kedepan akan mampu meningkatkan nilai pembiayaan resi gudang. Kami optimis, kedepan pemanfaatan Sistem Resi Gudang akan terus tumbuh. Dan potensi itu ada, mengingat jumlah komoditas dan luasan wilayah Indonesia. (bw)