Jakarta, (bisnissurabaya.com) – Pencapaian target kesejahteraan masyarakat yang sudah digalang pemerintah saat ini tersendat akibat pandemi Covid-19. Menteri Keuangan Republik Indonesia menyampaikan bahwa skenario terburuk bisa terjadi jika pertumbuhan konsumsi rumah tangga melambat, jadi 3,2 persen dalam skenario berat, hingga 1,6 persen dalam skenario sangat berat. Kinerja ekspor yang menurun tajam 14 persen hingga 15,6 persen. Kondisi perekonomian Indonesia dapat menyebabkan peningkatan angka pengangguran. Data Badan Pusat Statistik (BPS) terakhir, jumlah penganggur di Indonesia sebanyak 7,05 juta jiwa dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) 5,28 persen. Menteri Keuangan Republik Indonesia juga menyampaikan pada skenario berat, jumlah penambahan penganggur diprediksi dapat mencapai 5,2 juta jiwa. Besarnya jumlah penduduk usia produktif di Indonesia saat ini diharapkan mampu menjadi lompatan bagi Indonesia menjadi negara maju dan kaya. Pandemi Covid-19 dapat dilihat sebagai peluang merintis kewirausahaan sehingga dapat mendorong penciptaan lapangan kerja baru. Jika kewirausahaan pada skala mikro keluarga, terutama melalui kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera/UPPKS digenjot maka dapat berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan pendapatan keluarga. Produktivitas tinggi pada skala keluarga mempercepat transformasi bonus demografi menjadi bonus kesejahteraan.

Untuk meningkatkan penghasilan keluarga diperlukan, produk yang memiliki peluang usaha, sumber modal, kelompok jaringan pasar. Selain itu, kita harus mampu mengajak keluarga Indonesia untuk melakukan karya cipta, mampu melihat peluang dan menciptakan peluang dan menanamkan kerja cerdas dan tuntas, bekerja dengan tulus dan tekad yang kuat. “Kita bangun remaja-remaja untuk memiliki mental yang kuat pula, karena mulai dari keluarga kita bisa membangun ekonomi serta menjadi keluarga yang mandiri dan sejahtera.

Jika kita belum berprestasi maka jangan dulu prestise, walaupun berjumlah sedikit harus kita investasi,” kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional/BKKBN dr Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) dalam Webinar “Normal Baru (The New Normal) Dalam Merintis Usaha Ekonomi Keluarga Pasca Pandemi Covid-19” secara virtual melalui aplikasi Webex di Jakarta Rabu (10/6). Menurut Prof Rhenald Kasali, membuka akses permodalan cara lama adalah pemberian bantuan modal. Padahal pemberian bantuan modal justru tidak awet atau sustain. Di luar itu, masih banyak opsi melalui mentor dan pendamping untuk para pelaku usaha mikro untuk mengembangkan kompetensi, kapital, dan pemasaran bagi para perintis usaha mikro sehingga bisa mengatasi permasalahan rekan-rekan pelaku usaha mikro kecil. “Keluarga harus menanamkan kepada anak-anaknya untuk menjadi orang yang jujur dan dapat dipercaya, karena dalam hal kapital yang lebih utama bukanlah uang tetapi kepercayaan, karena dengan kepercayaan bisa membuat setiap orang bertahan disetiap usaha yang dirintisnya,” tambah Rhenald.

Digital Expert Specialist Tuhu Nugraha menjelaskan bahwa kanal digital bukan hanya dapat digunakan untuk berjualan, tapi juga untuk riset dan inovasi, edukasi dan promosi produk, layanan pelanggan dan membangun loyalitas. Karena tidak semua produk bisa dijual di digital. Tuhu berharap kanal digital ini dapat dimanfaatkan oleh kelompok usaha khususnya UPPKS untuk melayani pelanggan, menjawab setiap pertanyaan konsumen dan membangun loyalitas konsumen.

Webinar Normal Baru (The New Normal) Dalam Merintis Usaha Ekonomi Keluarga Pasca Pandemi Covid-19 bertujuan membuka ruang berinteraksi, konsultasi dan diskusi keluarga untuk meningkatkan kualitas hidup mereka setelah masa pandemi COVID-19. (bw)