Surabaya,(bisnissurabaya.com) – Rapid Test massal covid-19 di sejumlah wilayah di Surabaya kembali digelar Badan Intelijen Negara (BIN). Dari 186 warga yang dinyatakan reaktif, beberapa diantaranya menolak di karantina. Agus Sugianto, warga Surabaya ini hanya bisa pasrah saat dirinya dinyatakan reactif rapid tes oleh tim dokter covid 19 Badan Intelijen Negara. Ia tertunduk lesu karena harus menjalani karantina sesuai aturan protokol kesehatan.

Pria yang bekerja di proyek bangunan ini, sempat beberapa kali protes ke Tim Medis menolak dikarantina. Namun, apa daya, tim medis tak mengizinkannya pulang dan harus menjalani isolasi di hotel, sesuai arah dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Untuk diketahui, rapid test massal yang digelar lima hari berturut-turut di kota Surabaya ini merupakan arahan langsung dari Kepala BIN, Jendral Pol (purn) Budi Gunawan. Hari ini rapid test massal dilakukan di dua titik.

Yakni, di Taman Mundu, Jalan Tambaksari, serta disisi Barat Masjid Agung Al-akbar Surabaya. Kepala Poliklinik BIN, Sri Wulandari, menyebut, dari 727 orang yang mengeikuti rapid disisi barat Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, untuk sementara ada 74 orang dinyatakan reactif. Menurut Wulan, rapid tes ini difokuskan di Surabaya karena saat ini sebaran covid 19 di Surabaya sangat tinggi. Untuk itu, tim medis perlu melakukan mitigasi guna memutus mata rantai penyebaran covid 19 di Jatim, khususnya Surabaya.

Ia berharap, dengan kesadaran masyarakat mengikuti rapid test massal ini, pemerintah dapat melakukan pelacakan lebih cepat terhadap warga yang positif covid-19. Bagi warga Surabaya, rapid tes masal ini sangat membantu. Selain gratis, surat keterangan negatif rapid tes juga bisa dipergunakan sebagai dokumen perjalanan.

Selama lima hari berturut-turut menggelar rapid massal di Surabaya, Badan Intelijen Negara sudah menjaring 186 warga yang reactif rapid. Selanjutnya, warga langsung menjalani karantina selama 14 hari di salah satu hotel di Surabaya yang sudah ditunjuk Dinas Kesehatan Kota Surabaya. (feri/stv)