(bisnissurabaya.com) – Di masa pandemi Covid-19 ini pelayanan Keluarga Berencana (KB) tetap berjalan. Hanya saja, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional/BKKBN tetap memperhatikan protokol pencegahan penyebaran virus corona. Disisi lain, yang tidak kalah pentingnya yaitu pelayanan serta promosi dan konseling kesehatan reproduksi juga masih diperlukan dalam masa pandemi.
Pada saat pandemi ini, akses masyarakat terhadap pelayanan serta konseling kesehatan menjadi terbatas. Untuk meminimalisir kontak dengan petugas kesehatan, sebagian besar kegiatan promosi dan konseling termasuk kesehatan reproduksi lebih banyak memanfaatkan media sosial dan media komunikasi jarak jauh.

Baik secara online maupun offline. Menanggapi kondisi saat ini, dimana masih banyak masyarakat yang membutuhkan informasi dan konseling terkait infertilitas dan kesehatan reproduksi, maka BKKBN bersama dengan POGI menyelenggarakan kegiatan webinar yang mengangkat topik dan isu menarik seputar penanganan infertilitas dalam kesehatan reproduksi. Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), mengatakan, saat ini, Indonesia sedang mengalami bonus demografi. Bahkan, akan segera berlalu beberapa tahun lagi. BKKBN bersama instansi terkait, pakar dan mitra kerja terus saling membantu menciptakan SDM berkualitas.

Untuk memetik bonus demografi harus memenuhi dua syarat yaitu tidak hanya dari segi kuantitas namun juga kualitas dari segi kuantitas, sehingga salah satu untuk menciptakan SDM berkualitas adalah kesehatan reproduksinya, ujar Hasto. Berdasarkan data Evaluasi Demographic and Health Surveys (DHS) yang dilakukan WHO pada 2004 memperkirakan lebih dari 186 juta WUS yang pernah menikah di negara berkembang mengalami infertilitas, atau setara dengan 1 dari setiap 4 PUS usia 15-49 tahun. Di Indonesia, dari 67 juta pasangan usia subur, 10-15 persen atau 8 juta mengalami gangguan infertilitas atau kesuburan yang membuat mereka sulit mendapatkan anak (Profil Kesehatan Indonesia, 2012).
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), prevalensi infertilitas di Indonesia meningkat setiap tahun.

Pada 2013, tingkat prevalensi adalah 15-25 persen dari semua pasangan (Riskesdas, 2013). Berdasarkan data dari Perhimpunan Fertilisasi In Vitro Indonesia (Perfitri) pada tahun 2017, terdapat 1.712 pria dan 2.055 wanita yang mengalami infertilitas. Selain itu, WHO memperkirakan sekitar 50-80 juta pasutri (1 dari 7 pasangan) memiliki masalah infertilitas dan setiap tahun akan muncul 2 juta pasutri dengan masalah infertilitas. Di Indonesia angka kejadian infertilitas diperkirakan terjadi pada lebih dari 20 persen pasutri.

Di Indonesia angka kejadian infertilitas pada perempuan usia 30 – 34 tahun 15 persen, pada usia 35-39 tahun 30 persen, dan pada usia 40 – 44 tahun adalah 55 persen. Plt Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) BKKBN, Ir Dr Dwi Listyawardani, M.Sc., Dip.Com menambahkan, pasutri dinyatakan mengalami Infertilitas atau gangguan kesuburan apabila pasutri belum hamil meski telah melakukan hubungan seksual secara teratur selama 12 bulan tanpa menggunakan alat proteksi/ kontrasepsi. Pasutri dinyatakan memiliki masalah infertilitas primer jika belum pernah ada riwayat kehamilan dan dinyatakan sebagai infertilitas sekunder jika pasutri tersebut tidak berhasil hamil atau tidak mampu hamil atau tidak mampu mempertahankan kehamilannya setelah memiliki anak hidup sebelumnya,’’ ujar Dwi. Hasto berharap, melalui acara webinar ini dapat meningkatkan pemahaman dan kompetensi para peserta.

Baik seluruh pejabat dan staf di lingkungan internal BKKBN, maupun tenaga kesehatan dan mitra terkait lainnya mengenai isu-isu strategis di bidang kesehatan reproduksi dan mendorong munculnya ide-ide kreatif serta inovasi yang mendukung keberlangsungan pelayanan serta promosi dan konseling kesehatan reproduksi di masa pandemi ini,’’ tutupnya. (bw)