Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Skenario New Normal, atau pola hidup baru yang beradaptasi dengan pandemi covid-19, belum layak diterapkan di Surabaya. Hal ini dikarenakan, angka penyebaran covid 19 di Jatim terus naik dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Skenario pola hidup baru yang beradaptasi dengan pandemi covid-19, jadi tarik ulur.

Berbagai persiapan New Normal dilakukan Pemerintah meski sejumlah indikator mengatakan Indonesia belum layak memasuki fase ini. Berbeda dengan pemerintah pusat, pemerintah Propinsi Jawa Timur/Jatim saat ni masih belum akan menerapkan New Normal. Hal ini, karena, angka penyebaran covid 19 di Jatim, khususnya Surabaya Raya terus naik dan belum menunjukkan tanda- tanda penurunan.
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, mengatakan, kota Surabaya belum layak menerapakan New Normal, karena Rate Of Transmission angkanya mencapai 1,6. Menurut Khofifah, salah satu syarat New Normal, berdasarkan pedoman WHO, penyebaran covid 19 harus turun 50 persen dalam dua minggu terakhir.

Jika New Normal, di tengah pandemi yang masih tinggi tetap diterapkan, dikhawatirkan lonjakan pasien positif covid akan makin tak terkendali. Pada kondisi ini, tenaga kesehatan yang berada di garis depan melawan covid 19 juga berisiko terpapar. Untuk itu, agar New Normal bisa segera diterapkan, Khofifah, minta masyarakat tetap disiplin menerapkan pola hidup sehat dan bersih serta patuh terhadap protokol kesehatan yang ditetapkan Pemerintah. Untuk diketahui, persebaran covid-19 di Jatim saat ini sedang tinggi-tingginya. Terdapat lonjakan 159 kasus baru, dengan total 4.271 pasien positif corona. Sedangkan, angka kematian akibat virus ini juga terus bertambah. Yakni 11 orang, dengan total 348 orang meninggal dunia. (feri/stv)