Surabaya,(bisnissurabaya.com) – Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait, menghadiri sidang di Pengadilan Negeri/PN Surabaya. Kedatangan Sirait ke PN untuk memantau jalannya sidang pencabulan anak yang dilakukan pemuka agama berinisial HL yang terjadi beberapa waktu lalu di Surabaya. Sidang sendiri memasuki agenda pembacaan eksepsi dari kuasa hukum terdakwa. Dia menilai kejahatan sidang ini merupakan kejahatan luar biasa dan dilakukan berulang kali. Karena itu, dia minta Majelis Hakim menyertakan hukuman kebiri terhadap terdakwa pendeta cabul itu.

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Komnas Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait, saat memonitor jalannya persidangan kasus pencabulan yang dilakukan pemuka agama terhadap anak dibawah umur. KPAI memberikan pesan kepada jaksa untuk dapat menggunakan pasal berlapis UU perlindungan anak dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun. Pasal lain yang bisa menjerat terdakwa, yakni UU 17 tahun 2016 dan minimal bisa dihukum 10 dan maksimal 20 tahun. Bahkan bisa dihukum seumur hidup dan bisa ditambahi hukuman kebiri lewat suntik kimia karena dilakukan berulang kali. Selain itu, Ketua KPAI ini mempertanyakan, kenapa sidang ini dilakukan secara tertutup, dan dirinya tidak diperbolehkan masuk.

Sementara itu, Kuasa Hukum terdakwa minta kepada masyarakat untuk menghormati sidang tertutup ini dan meminta siapapun untuk tidak berkomentar menggiring opini. Kuasa Hukum juga minta menghormati persidangan dan menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum. Sebelumnya, korban dibawah umur ini mengaku jemaat gereja dicabuli sama pendetanya. Setelah pelaporan, Kepolisian langsung melakukan penyelidikan dan menetapkan hanny layantara sebagai tersangka karena dalam hasil gelar perkara ada kesesuaian antara keterangan saksi, korban, tersangka dan barang bukti yang ditemukan. Akhirnya Pendeta ditangkap penyidik Polda Jatim karena ada dugaan upaya melarikan diri ke luar negeri dengan alasan ada undangan untuk memberikan ceramah. (feri/stv)