Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Kader petarung di kandang banteng. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau yang dikenal masyarakat dengan sebutan PDI Perjuangan/PDI-P bukanlah satu-satunya partai di Indonesia. Bersama dengan partai lain, seperti PPP, Golkar, PKB, dan PAN, telah mengikuti pemilihan umum tahun 1999, 2004, 2009, 2014 dan 2019.

Sesungguhnya, saat masih bernama Partai Demokrasi Indonesia/PDI, PDIP telah mengikuti pemilu sejak 1977, 1982, 1987, 1992, dan khusus pada pemilu 1997 PDI Pro Mega/ PDI Promeg yang sedang berkonflik dengan PDI Pro Soerjadi yang terpilih dalam Kongres Medan 1996, memilih untuk tidak ikut dalam perhelatan 5 tahunan tersebut. Setelah pemerintahan orde baru tumbang oleh gerakan reformasi 1998, yang ditandai dengan mundurnya Presiden Soeharto, maka pada tahun itu juga di Bali, Megawati Soekarnoputri, selaku Ketua Umum mendeklarasikan berubahnya nama PDI menjadi PDI Perjuangan.

“Sebenarnya yang membedakan PDIP dengan lainnya, partai ini tidak hanya didirikan diatas kertas akta notaris, tetapi diatas darah dan air mata para kadernya,” kata Ketua Ranting PDI Perjuangan Kelurahan Kapasari Kecamatan Genteng, Ana Sumarni, kepada bisnissurabaya.com Rabu (20/5). Memang benar, sejarah panjang partai nasionalis yang berdiri pada 11 Januari 1973 ini banyak diwarnai dengan pengorbanan fisik kader- kadernya. Terutama mereka yang gugur atau hilang saat mempertahankan kantor DPP di Jalan Diponegoro 58 Jakarta. Dikemudian hari, peristiwa kelabu ini dikenal sebagai peristiwa 27 Juli 1996 (Kudatuli). “Peristiwa demi peristiwa politik, menjadikan kader PDI Perjuangan militan dan pantang menyerah,” jelas Perempuan cantik berhijab ini. Dihadapan para pengurus Ranting Embong Kaliasin seperti Ketua Ranting, Nanang Sutrisno, Heri, Sucahyo, Dariono, Arif Soemarsono, Solihin, Rudi, dan Sudartik yang sedang diskusi di kediamannya, Ana, menjelaskan bahwa kader PDI Perjuangan juga diwajibkan untuk mengikuti kursus kader di Badan Pendidikan dan Latihan/Badiklat. Disana diajarkan berbagai materi indoktrinasi. seperti Pancasila 1 Juni, AD/ART, Hasta Prasetya, dan lain- lain. Lebih dari itu, para kader juga diajarkan fatsun dan etika politik. Hal ini membentuk sikap mental yang berani berkorban dalam memperjuangkan kepentingan partai dan masyarakat. Karakter ini sesuai dengan sesanti yang sering diucapkan Ketua Umum DPP Megawati Soekarnoputri, ‘Karmanye Vedikaratse Maphaletsu Kadatcana’ Artinya Berjuanglah Tanpa Menghitung Untung Dan Rugi.

“Ibu Megawati Soekarnoputri, banyak mengajarkan kata- kata bijak dalam bahasa sansekerta. Seperti Tat Twam Asi, yang artinya Aku adalah Kamu, dan Kamu adalah Aku. Juga Satyam Eva Jayate yang artinya pada akhirnya kebenaran yang akan menang,” tambah Ibu dari anggota legislatif Surabaya, Norma Yunita. Sejak pemilu era reformasi, PDIP sering tampil menjadi pemenang 1999, 2009, 2014, dan 2019. Bahkan di beberapa daerah seperti Surabaya, jago yang dicalonkan PDIP selalu menang pilkada langsung.
Kata kunci yang selalu dipegang teguh oleh pengurus PDIP disemua tingkatan adalah “Menangis dan tertawa bersama rakyat”. Di era Covid 19 seperti sekarang ini, seluruh kader partai, baik yang di struktural, eksekutif maupun, legislatif bersama-sama turun ke masyarakat untuk membantu pemerintah meringankan beban warga terdampak langsung maupun tidak langsung. Berbagai kegiatan sosial dilakukan. Mulai dari membagikan masker, sanitizer, gentong air, minuman rempah, hingga medisbusikan bantuan sembako. “Gemblengan partai, saat terjun membantu masyarakat seperti ini menjadikan kami sangat militan” pungkas Ana Sumarni. (nanang)