Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Aneka jajanan, makanan dan minuman menggugah selera. Apalagi, jajanan itu dijual menjelang waktu berbuka di Pasar Musiman jalan Karang Menjangan Surabaya. Namun, pasar takjil kali ini berubah menjadi pasar physycal distancing oleh Pemerintah Kota Surabaya. Meski demikian, masih banyak warga yang berburu takjil di pasar ini, dengan mematuhi anjuran Pemerintah Kota Surabaya. Yakni, memakai masker dan menjaga jarak.

Berburu takjil menjadi tradisi di bulan ramadhan. Seperti terlihat di Pasar Musiman kawasan Karang Menjangan Surabaya ini. Hanya saja, kali ini berbeda dengan ramadhan sebelumnya yang berjubel manusia. Pasar takjil tahun ini harus menerapkan phsycal distancing untuk mencegah penyebaran covid-19, dan menaati Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB di Kota Surabaya. Terlihat sejumlah pedagang takjil di pasar ini, mengatur jarak antar lapak dagangannya dengan pedagang lainnya.

Meski aturan Pemerintah Kota Surabaya sudah diterapkan, namun, sejumlah pembeli pun masih banyak yang berburu takjil di tempat tersebut, lantaran banyak pilihan menu untuk berbuka dengan takjil ataupun makanan lainnya. Seperti martabak, tahu isi, ote-ote, kolak, es buah, atau pun kolak. Selain itu, sejumlah pembeli juga mengaku salut dengan Pemerintah Kota Surabaya, yang sudah menerapkan pasar physycal distancing, untuk menjaga kesehatan warganya. Yulianingsih, seorang pedagang takjil mengaku, pendapatannya menurun drastis dengan adanya wabah covid-19 ini, lantaran biasanya tahun lalu sehari-hari bisa mendapatkan omset hingga Rp 500.000 per hari.

Tetapi kali ini hanya bisa mendapatkan Rp 150.000 per hari. Di pasar physycal distancing ini, banyak menyediakan menu takjil dan makanan untuk berbuka puasa. Seperti martabak, tahu isi, ote-ote, kolak, es buah, atau pun kolak dengan harga yang sangat terjangkau. Mulai Rp 200 hingga Rp 20.000. (irwanda/stv)