Surabaya, (bisnissurabaya.com) – “Dibalik kehebatan Taruna Siaga Bencana/Tagana Jawa Timur/Jatim, berdiri dibelakangnya sosok Mbak Ita yang tangguh”. Ungkapan di atas, tampaknya cukup pas untuk menggambarkan sosok Ita Listiani. Dimata para relawan anggota Tagana di Jatim, maupun di tingkat nasional. Sebenarnya Ita Listiani, bukan siapa-siapa. Perempuan berhijab ini hanyalah seorang Kepala Seksi di lingkungan Dinas Sosial Provinsi Jatim, tepatnya dia menjabat sebagai Kepala Seksi Bantuan Korban Bencana Alam.

Namun, namanya dikenal banyak orang. Baik relawan maupun pejabat pemerintahan. Bahkan Gubernur Jatim, mulai Soekarwo, sampai Khofifah Indar Parawansa, mengenal langsung perempuan cantik berkulit bersih ini. Arek Suroboyo ini, dikenal sebagai sosok relawan perempuan yang memiliki sifat berani, gigih dan memiliki tanggung jawab sosial serta jiwa korsa yang tinggi.

“Sebagai seorang pemimpin, beliau tidak pelit untuk melakukan transfer ilmu yang dimiliki kepada anggota Tagana se Jatim saat penugasan di lapangan,” kata salah satu Koordinator Tagana Jatim, Priyo Prasodjo, kepada bisnissurabaya.com, Kamis (14/5) siang.
Selain itu, menurut Priyo, sosok Ita Listiani, juga merupakan pemimpin cekatan yang pekerja keras, cerdas, dan selalu tuntas dalam bekerja. Sebagai salah satu Koordinator Tagana Jatim, Priyo Prasodjo, yang akrab disapa Jefri beberapa kali mengalami penugasan bersama Ita Listiani. Antara lain, Bencana meletusnya Gunung Kelud 2007, banjir Jatim 2008, banjir Jakarta 2008, bencana meletusnya Gunung Merapi 2010, meletusnya Bromo 2011, meletusnya Kelud 2014, meletusnya Gunung Agung Bali 2017, gempa bumi Lombok 2018, dan gempa bumi Palu 2018.

Pada musim pendemi Covid 19, Pemerintah Provinsi Jatim membuka posko dapur umum di Lapangan Tenis Kodam V Brawijaya di Jalan Hayam Wuruk. Sebagai kasi yang membidangi bencana alam, Ita Listiani, tidak hanya bekerja dibawah meja dan memantau dari jauh semata. Tetapi dia turun langsung ke lapangan. Setiap malam perempuan yang tinggal di kawasan Wedoro Sidoarjo ini juga belanja kebutuhan dapur umum secara langsung di Pasar Keputran dan Pasar Mangga Dua, dan mengantarkannya sendiri menggunakan Mobil Kendaraan Taktis Umum (RTU) ke 3 dapur umum yang tersebar di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik.
Koordinator Tagana Kota Surabaya, Sigit Ari Ekianto, melihat sendiri setiap malam Ita Listiani, mengirim barang belanjaan kebutuhan dapur umum untuk memasak 5.000 porsi perbhari di posko dapur umum Kodam V Brawijaya.

“Mbak Ita, selalu tersenyum bangga saat melihat teman teman Tagana bekerja di dapur umum. Beliau selalu menyapa dan memberi semangat,” kata Koordinator Tagana Kota Surabaya, Sigit Ari Ekianto. Sigit juga teringat bahwa setiap kali ke dapur umum, Ita Listiani, selalu membawa oleh-oleh untuk teman-teman berupa jajanan gorengan, dawet, es cao, ataupun nasi babat. “Perhatian yang besar selalu ditunjukkan oleh Mbak Ita kepada anggotanya,” jelas Sigit.

Kini perempuan cantik berhijab kelahiran 28 Oktober 1968 itu telah berpulang ke Rahmatullah, Kamis (14/5) pagi pukul 02.15 WIB menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Mitra Keluarga. Tentu saja kepergian Ita Listiyani, yang mendadak menimbulkan kesedihan dan kepedihan bagi seluruh anggota Tagana di Jatim. Ibarat kata pepatah, Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang, dan Ita Listiani, telah pergi meninggalkan prasasti catatan pengabdian panjang dan luar biasa di dunia kebencanaan. (nanang)