Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Tingkat droup out/keluar dari program keluarga berencana/KB di Jawa Timur/Jatim tinggi. Bedasarkan data, pada Februari ada 1,32 persen, Maret 4,6 persen atau 278.356 dan April sekitar 7,07 persen atau 414.708.

“Tingginya angka droup out menyebabkan angka kelahiran bagi pasangan usia subur/PUS tahun ini diprediksi akan banyak,” kata Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Nasional Provinsi Jatim, Drs Sukaryo Teguh Santoso, M.Pd, di Surabaya Kamis (14/5) siang. Padahal peserta KB di Jatim sekitar 5 juta lebih sedikit.

Menurut dia, pada masa pandemi Covid 19 ini, angka tertinggi droup out di Jatim adalah Kabupaten Sampang 19,95 persen disusul Kota Mojokerto 17,36 persen dan Sumenep 16,31 persen. Sedangkan terendah kota Malang 2,98 persen. Sedangka Surabaya Raya yang saat ini sedangkan melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar/PSBB, diantaranya Gresik 10,53 persen, Sidoarjo 6,65 persen dan Surabaya 6,58 persen. “Jadi, untuk tahun ini kejadian kehamilan yang tidak diinginkan dipastikan tinggi,” ujar Sukaryo.

Ia menyatakan, di masa pandemi covid-19, telah memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap penggunaan alat kontrasepsi pada Pasangan Usia Subur (PUS). Terjadi penurunan penggunaan kontrasepsi dapat menyebabkan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan atau Unwanted Pregnancy karena tidak teraksesnya PUS terhadap pelayanan kontrasepsi yang akan menjadi fenomena baby boom.

Kehamilan yang tak direncanakan, kata dia, berisiko terjadi di masa pandemi covid-19, ketika pasangan suami-istri lebih banyak berkegiatan di rumah. Ada 1001 alasan mengapa sebaiknya masyarakat untuk menunda kehamilan terutama pada masa pandemi covid 19 saat ini. diantaranya pertimbangan mengenai kesehatan ibu hamil dan janin selama pandemi. Alasan mengapa masyarakat menunda dulu kehamilan terutama pada masa pandemi covid-19 adalah soal pertimbangan mengenai kesehatan perempuan yang hamil dan kondisi fasilitas kesehatan selama Pandemi Covid-19. “Karena orang hamil, terutama hamil muda, kan daya tahan tubuhnya menurun. Kalau daya tahannya turun itu kan mudah terkena infeksi,” ungkapnya.
Hamil di tengah Pandemi Covid-19 dapat menimbulkan resiko bagi Ibu dan Bayi, diantaranya, hamil muda dapat menurunkan imun tubuh Ibu sehingga rentan terhadap virus covid-19.

Terbatasnya pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan, sehingga akan sulit untuk melakukan kontrol selama masa kehamilan serta ibu hamil muda beresiko mengalami keguguran yang dapat menyebabkan kematian Ibu dan Bayi. Serta Jika ibu hamil terinfeksi virus corona, maka akan menerima sejumlah obat-obatan yang belum secara jelas diketahui dampaknya terhadap janin. (bw)