Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Bulan ramadhan tahun ini hadir dalam suasana keprihatinan yang tinggi. Sebab, umat Islam se-dunia harus menjalani ibadah puasa di tengah merebaknya virus covid 19 atau yang dikenal dengan nama corona. Perekonomian menjadi terganggu karena banyak pabrik, mall dan pasar yang tutup. Masyarakat merasakan dampak secara langsung dari keadaan ini.

Mereka banyak yang mengalami pemutusan hubungan kerja/PHK dan kehilangan pekerjaan. Sehingga lambat laun mulai merasakan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keadaan seperti ini, menjadi keresahan tersendiri bagi Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Surabaya, Norma Yunita.

Hatinya bergejolak setiap kali melihat atau mendengar ada warga yang kesusahan. Apalagi sampai tidak bisa makan. Dia pasti akan mendatangi warga tersebut dan membawakan bahan makanan yang diperlukan. Apa yang dilakukan Norma Yunita, mengingatkan kepada Umar Bin Khatab, Sahabat Nabi Muhammad SAW yang mengantar sendiri bahan makanan kepada warganya.
“ Saya sangat sedih kalau melihat ada orang susah. Makanya dari dulu di mobil saya selalu saya sediakan paling sedikit 10 bungkus nasi, dan itu saya bagikan kepada orang susah yang saya temui di jalan,” kata Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Surabaya Norma Yunita, kepada bisnissurabaya.com, di Surabaya Selasa (12/4). Bersedekah dan puasa adalah ibadah yang dijalankan oleh legislator cantik kelahiran 1984 ini sejak muda.

Dulu setiap kali memiliki uang Rp 100.000 pasti dia belanjakan bahan makanan untuk membuat nasi bungkus. Kini ketika dia menjabat sebagai wakil rakyat di DPRD Kota Surabaya, wanita murah senyum ini bisa menyisihkan lebih banyak lagi uang untuk membeli paket sembako dan nasi kotak. Di musim corona seperti sekarang ini kurang lebih 1.000 paket sembako dan 500 nasi kotak yang sudah dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Norma Yunita, adalah salah satu sosok yang beruntung.

Dia terdampar di DPRD Kota Surabaya karena kecelakaan sejarah, pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, Norma, muda yang masih polos dan jauh dari hingar bingar politik, tiba-tiba harus menggantikan ibunya, Ana Sumarni sebagai calon anggota legislative yang tidak lolos proses administrasi. Posisi Norma, saat itu adalah karyawan Dinas Pemadam Kebakaran sebagai srikandi pengemudi mobil pemadam kebakaran yang kemudian menjadi staff Dinas. “Pada saat Daftar Calon Tetap/DCT diumumkan, maka saya mengundurkan diri dari Dinas pemadam kebakaran,” jelas alumni SMIP Satya Widya ini. Dimata Kepala Dinas PMK, Candra Oratmangun, sosok Norma Yunita, tidak hanya dikenal sebagai pekerja keras, tangguh, ulet, disiplin tinggi dan pantang menyerah.

Tetapi juga dikenal sebagai pribadi yang sopan, ramah, dan murah senyum. Tak ayal banyak yang senang bergaul dengannya, baik atasan maupun rekan sejawat. Kini, setelah Norma Yunita, menjadi anggota DPRD dan tidak lagi berdinas di PMK, tetapi dia masih menjalin hubungan yang erat dengan mereka. Sebagai anak pertama dari pasangan Boedi Basuki dan Ana Sumarni, Norma Yunita, menaruh rasa hormat yang tinggi terhadap orang tuanya terutama kepada ibunya.

Menurut Norma, ibunya adalah kader PDI Perjuangan yang militan dan pekerja keras walaupun kadang-kadang kalau berbicara selalu apa adanya dan meledak- ledak. Tipologi ibunya yang seperti ini justru menjadi kombinasi yang sempurna bagi Norma, yang berpenampilan kalem dan lemah lembut. “Pada saat kampanye kemarin saya dan ibu tampil bersama di masyarakat, jika pidato ibu meledak-ledak. Maka saya tampil dengan bahasa yang mendinginkan dan menyejukkan,” tambah anggota Komisi D yang membidani kesejahteraan rakyat ini. Ada ungkapan bagus yang dapat melukiskan sosok dan peran ibunya dalam mengantarkan kesuksesnya, ‘Dibalik kesuksesan Norma Yunita, berdiri dibelakangnya Ana Sumarni, yang tangguh’.

Ungkapan ini mirip dengan pepatah kondang “Dibalik pemimpin yang hebat, berdiri dibelakangnya perempuan yang tangguh”. Setelah hampir setahun duduk di Komisi D DPRD Surabaya, perempuan cantik berhijab dengan perolehan suara 7.024 dari daerah pemilihan (dapil) 1 yang meliputi Kecamatan Tegalsari, Genteng, Gubeng, Simokerto, Bubutan dan Krembangan ini, mulai menunjukkan kiprahnya dibidang sosial, pendidikan, kesehatan, dan tenaga kerja yang menjadi tugasnya. Kini dia mulai menikmati aktifitas parlemen yang digelutinya itu. Pengalaman sebagai seorang pembalap yang menggabungkan antara naluri, kecepatan, dan ketepatan dalam bertindak, banyak membantu dalam menyelesaikan persoalan di lapangan. “Ternyata politik itu menyenangkan, walau kadang- kadang menegangkan,” pungkas Norma Yunita. (nanang)