Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Wabah Covid-19 rupanya membuat dunia usaha di Indonesia terpukul. Terutama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang kelimpungan dalam menjalankan bisnisnya.
Namun, tidak dialami Owner UMKM Joana Cookies, Monica Harijati, yang bisa dikatakan aji mumpung di pandemi Covid-19 ini. Ia mengaku sangat terbantu dengan pesanan makanan abon dari Pemkot Surabaya. Setiap hari orderan dari pemkot ini kian bertambah. “Sampai hari ini pemkot melalui Disdag sudah pesan sekitar 400 kilogram,” jelas Monica.

Monica, membeberkan, setiap harinya dia yang dibantu anak-anaknya, mampu menyelesaikan kurang lebih 100 kilogram abon. “Selain dibantu anak saya, kami mengerjakan ini juga secara berkelompok,” ujarnya.

Namun begitu, Monica, mengakui, sebelum mendapat orderan, omzet jualannya menurun drastis. Terlebih dampak dari pandemi Covid-19. Namun, tanpa menunggu lama, ia pun bergegas untuk lebih mengaktifkan penjualannya dengan memanfaatkan digital marketing. “Kita harus bangkit dengan cara yang beda. Akhirnya, muncul ide baru dengan mengaktifkan online,” imbuh Monica.

Untuk saat ini, Monica mengaku, jika usahanya mulai bangkit kembali. Selain penjualan, ia pun juga sibuk melakukan workshop secara online agar terbebas dari keterpurukan ini.
“Yaaaa, sebelumnya terima kasih sekali kepada Pemkot Surabaya karena selalu memberi semangat dan jeli melihat ketangguhan yang kami kerjakan,” pungkasnya.

Sementara, Kepala Dinas Perdagangan/Disdag Kota Surabaya, Wiwiek Widayati, mengatakan, di tengah pandemi Covid-19, Pemkot Surabaya terus berupaya bagaimana memberdayakan UMKM. Apalagi situasi saat ini sektor ekonomi dan dunia usaha berdampak begitu besar. “Karena itu, kita juga terus mencarikan substitusinya. Bagaimana mereka masih tetap produksi, dan produksi itu bisa tetap menghasilkan,” kata Wiwiek di Surabaya, Sabtu (9/5).

Karena itu, pihaknya melibatkan UMKM untuk mendukung pemkot dalam upaya penanganan Covid-19. Mereka dilibatkan dalam pembuatan alat pelindung diri/APD seperti masker dan baju hazmat, hingga berbagai produk olahan makanan. “Jadi, kemarin mereka itu kita libatkan dalam pembuatan masker, APD, baju hazmat. Kita juga libatkan dalam pembuatan abon, pembuatan kering tempe dan sebagainya,” tandas Wiwiek.

Wiwiek, merinci, untuk produk kering tempe, pemkot melibatkan hampir 165 UMKM. Sedangkan abon, ada sekitar 10 UMKM, dan sambal pecel 49 UMKM. Disamping itu, ada pula UMKM yang dilibatkan dalam pembuatan APD dan masker kain. “Untuk pembuatan APD itu ada 11 UKM. Sedangkan masker, kurang lebih ada 41 UKM,” katanya. (ton)