Jakarta, (bisnissurabaya.com) – Saat ini proporsi jumlah penduduk pada kelompok umur muda dan produktif sangat besar menjadikan sasaran utama program Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Mereka inilah yang menjadi tumpuan pembangunan nasional baik sekarang maupun dimasa datang. Sehingga BKKBN merubah pendekatan program agar menjadi lebih relevan untuk generasi Millenial dan Zillenial. Keinginan kuat BKKBN dilakukan dengan upaya rebranding.

Yaitu, penyegaran penampilan pada logo, tagline dan jingle. Bukan hanya itu, BKKBN juga melakukan cara pendekatan yang lebih sesuai dengan selera dan dinamika generasi millenial dan zillenial. Diera digital saat ini, BKKBN melakukan berbagai pendekatan dan memanfaatkan media komunikasi untuk meningkatkan akses penyebaran informasi. Salah satu upaya yang strategis dalam penyebarluasan informasi program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan keluarga Berencana (Bangga Kencana) dengan sasaran 70 juta keluarga Indonesia dan 70 juta remaja Indonesia yang membutuhkan informasi Program Bangga Kencana dan cara-cara perubahan yang efektif untuk berpartisipasi dalam pembangunan kesejahteraan untuk mewujudkan keluarga yang tentram, mandiri, dan bahagia dalam koridor Pembangunan keluarga.

Penegasan itu dikemukakan Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (G), di Jakarta Rabu (6/5). Masa Pandemi Covid-19, kata dia, telah memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap penggunaan alat kontrasepsi pada Pasangan Usia Subur (PUS). Terjadi penurunan penggunaan kontrasepsi dapat menyebabkan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan karena tidak teraksesnya Pasangan Usia Subur terhadap pelayanan kontrasepsi.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh BKKBN untuk meningkatkan awareness masyarakat Indonesia termasuk stakeholder dan mitra kerja melalui berbagai media. Bukan hanya resiko kesehatan namun juga resiko psikologis karena kekahawatiran. Oleh karena itu, kita harus mensosialisasikan penundaan kehamilan kepada masyarakat dan sosialisasi ini harus dikemas pula secara baik dan menarik sehingga terpahami isi pesannya. Berdasarkan data BKKBN, sebanyak 30 persen bayi berisiko tidak memenuhi standar kesehatan saat lahir.

Apabila sejak awal bayi sudah tidak memenuhi standar kesehatan, maka akan sulit mengembangkan SDM ke depannya. Ketidaktahuan dan ketidaksiapan pasangan saat akan menikah menimbulkan banyak risiko kesehatan terhadap ibu dan bayi yang dilahirkan. Ketidaktahuan itu juga menurunkan kemampuan pasangan muda untuk menghasilkan generasi baru yang unggul dan berkualitas. Karena itu, dalam rangka mewujudkan generasi Indonesia yang unggul, BKKBN berupaya melakukan pendekatan kepada para calon ibu dengan memberikan edukasi dan kesadaran tentang pentingnya mempersiapkan 1.000 hari pertama kehidupan bagi bayi sehingga bayi yang mereka lahirkan menjadi generasi baru yang unggul dan berkualitas.

“Banyak program yang bagus di BKKBN, namun apakah generasi muda mengetahui itu? Hal ini yang harus menjadi perhatian kita. Sepertinya program Bangga Kencana harus kita tinjau ulang, kita kemas ulang sehingga bisa sampai dan dipahami para generasi muda kita,” ungkap Hasto. (bw)