Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Ini contoh yang kurang baik di tengah wabah covid 19. Yakni, dengan memanfaatkan pelaksanaan PSBB di Surabaya Raya, tiga orang ini tega membobol saldo kartu ATM senilai lima ratus juta rupiah. Ketiga pelaku dibekuk Tim Buser Polda Jatim. Dalam modusnya, ketiga pelaku memasang plat memori skimming pada mesin ATM untuk mengcopy data pin kartu ATM milik korban. Selanjutnya, data kartu ATM korban dipindah ke kartu ATM milik pelaku.

Akibatnya, tiga pelaku kejahatan skimming berinisial R-Y, 34 tahun, D-M, 32 tahun warga Malang, serta P-S, 31 tahun warga Bekasi, tak berkutik ketika digiring anggota Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Jatim. Ketiga pelaku dibekuk setelah melakukan aksi pembobolan saldo ATM seorang korban bernama Ristiono, warga sidoarjo senilai Rp 500 juta. Dari keterangan oolisi, menyebutkan, kasus ini terjadi setelah korban melaporkan kartu ATM miliknya tak bisa digunakan untuk penarikan uang di atm, saat akan mengambil uang untuk biaya ibadah haji. Ketika dilaporkan kepada bank terkait, ternyata ada 40 kali penarikan uang yang dilakukan orang lain alias pelaku, dan saldo uang milik korban menjadi kosong.

Padahal sebelumnya masih tersisa Rp 500 juta. Dari hasil penyelidikan bukti dan rekaman digital di mesin ATM dan kamera CCTV pelaku beserta jaringanya berhasil dibekuk. Modus operandi yang dilakukan tersangka dengan memasang plat skimming pada mesin ATM yang berfungsi mengcopy data PIN kartu ATM korban. Setelah tercopy, pelaku memindahkan data kartu ATM korban pada kartu ATM pelaku melalui komputer berikut mengubah kartu PIN milik korban dengan PIN baru milik pelaku.

Kasubdit Siber Ditreskrimsus Polda Jatim, AKBP Catur Cahyono Wibowo, mengatakan, dari hasil pengungkapan kasus ini, polisi membekuk 3 orang dan menyita sejumlah barang bukti berupa 2 alat skimming, 2 laptop, serta 86 kartu ATM berbagai bank. Ketiga pelaku diketahui sudah melakukan aksi skimming beberapa kali sejak Desember 2019 lalu.
Akibat perbuatanya, 3 pelaku dijerat Undang-undang ITE tentang mengakses komputer dengan cara menjebol sistem pengamanan, dan terancam hukuman 7 tahun penjara serta denda Rp 700 juta. (feri/stv)