Tuban, (bisnissurabaya.com) – Gara-gara virus corona, seorang pemuda di Tuban, Jawa Timur/Jatim, beralih profesi menjadi kurir pasar belanja online. Pemuda ini memanfaatkan teknologi dan sistem belanja online di pasar, sejak merebaknya virus covid 19, yang berimbas pada pekerjaannya. Sebelumnya, ia berprofesi sebagai tukang dekorasi pernikahan. Namun, sejak adanya virus corona, sedikitnya, ada sepuluh job dibatalkan.

Inilah kesibukan baru Arief, warga Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Tuban, sedang berbelanja di Pasar Jalan Pramuka, kabupaten ini. Sejak merebaknya virus covid 19, tidak ada warga yang berbelanja langsung ke pasar, karena takut tertular virus corona, dan lebih percaya mengikuti anjuran pemerintah agar tidak keluar rumah. Pemuda 28 tahun ini, memanfaatkan momen tersebut, di mana Pasar Tradisional Jalan Pramuka juga mengiklankan sistem belanja online. Sehingga, tidak perlu belanja langsung ke pasar.

Setiap pagi, Arief, mendapat order dari sejumlah ibu rumah tangga, yang ia tawari untuk sistem belanja online. Mulai belanja telur, minyak goreng, bawang putih, bawang merah, gula pasir dan lain lain. Arief, sebelumnya berprofesi sebagai tukang dekorasi pelaminan untuk pernikahan. Namun, semenjak merebaknya wabah corona, jobnya banyak yang dibatalkan.

Sejak satu bulan terakhir, sudah sepuluh job pernikahan dibatalkan. Dari iklan penerapan belanja online di Pasar Tradisional Jalan Pramuka tersebut, Arief, rutin menawari ibu-ibu rumah tangga, agar memanfaatkan jasanya untuk membelanjakan kebutuhan dapur. Hal ini, untuk membantu Pemerintah, dalam menerapkan physical distancing dan social distancing. Sehingga, dengan adanya belanja dan kurir online ini sangat membantu.

Sistem belanja online yang dijalani Arief ini, sangat membantu ibu rumah tangga di Tuban. Setidaknya, ada sepuluh ibu rumah tangga yang memesan belanja online kepada Arief, setiap harinya. Arief, mematok belanja minimal Rp 100.000, di tambah ongkos kirim Rp 10.000 per traksaksi belanja. Seperti, Nita Siregar, ini misalnya.

Ibu rumah tangga warga Perumahan Mondokan Sentosa, ini mengaku sangat terbantu. Selain tidak berani keluar rumah, dirinya juga harus menyiapkan makanan untuk keluarga. Sedangkan jarak antara rumah dengan pasar, sejauh empat kilometer. (mulyanto/stv)