Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Kejahatan bajing loncat dulu sangat familier di kalangan pengusaha angkutan truk. Sebab, kejahatan jalanan berupa pemerasan, pembegalan di jalan antar kota yang dialami sopir truk akhir-akhir ini semakin sering terjadi lagi. Terutama dalam obrolan antar pengusaha truk di semua whats app group Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia/Aptrindo dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia. Juga dari sopir truk anggota berbagai komunitas adalah tak lepas dari faktor sulitnya ekonomi di tengah hantaman bencana wabah virus Covid-19 yang sedang melanda dunia termasuk Indonesia.

Belum tentu yang melakukan adalah para narapidana yang baru saja diberi hak asimilasi oleh Menkumham Yassona Laoly, tetapi karena momentumnya bertepatan maka banyak juga yang mengaitkan peristiwa keduanya.

Namun, biasanya para pelakunya memang penjahat kambuhan. Berdasarkan pengalaman seringnya mengikuti cerita tentang proses penyelidikan, penyidikan, sampai putusan pengadilan yang berfokus pada saksi, korban dan terduga pelaku dari para anggota Aptrindo dan para sopir truk.

Yang sering diartikan sebagai aksi pemerasan biasanya dilakukan oleh beberapa orang (terkadang termasuk juga oleh anak-anak jalanan dibawah umur) secara sekonyong-konyong saja dan bisa terjadi dimana saja. Seperti di daerah sepi, area pelabuhan, area pergudangan, area parkir truk, rest area jalan tol, bahkan ditengah keramaian arus lalu- lintas di jalan raya sekalipun.

Pelaku pemerasan biasanya berasal dari daerah sekitaran TKP saja dan tak jarang pula diantara mereka ada yang hanya melakukan lantaran iseng, sekedar untuk membeli minuman keras atau narkoba. Bahkan, sekedar untuk beaya nonton pertandingan sepakbola.

Umumnya mereka beraksi tanpa target tertentu dan juga secara individual, malah ada diantaranya yang bisa dikategorikan sebagai aksi petualangan atau kenakalan remaja saja. Perolehan mereka pun terbilang kecil, hanya puluhan atau ratusan ribu, tidak sampai jutaan rupiah. Sementara aksi pembegalan biasanya cenderung lebih terorganisir, melibatkan banyak orang dengan keahlian masing-masing. Bekerja pakai rencana dan atas dasar pesanan dari tukang tadah serta memerlukan modal besar dalam operasinya.

Dalam kawanan begal biasanya minimal ada empat orang yang terlibat. Ada sopir mobil operasional, sopir truk cadangan, informan dan eksekutor yang bertugas menurut keahliannya masing-masing.

Daerah operasional favorit para kawanan begal ini adalah tempat parkir truk, rest area jalan tol, jalanan sepi dan biasanya di jalan antar kota bukan di dalam kota.

Kendati kawanan begal ini bekerja secara lebih profesional dibanding pelaku pemerasan dan bajing loncat. Namun, mereka juga tetap mempunyai daerah operasi, walaupun lebih luas zona operasinya.

Modus operandinya kurang lebih bisa bekerja sama dengan sopir truk itu sendiri untuk mengatur skenario seolah-olah truk seperti dibegal. Padahal kerjasama antara sopir truk dengan begal.

Ada pula informan mendapat info dari “orang dalam” (bisa kepala gudang tempat truk mengambil muatan, bisa dari sopir lain yang mengkhianati temannya) tentang muatan apa dimuat oleh truk apa.

Juga bisa informan menyamar sebagai sopir dan nimbrung bersama di warung sopir sambil mendengarkan obrolan antar sopir, siapa muat apa, dari mana kemana.

Dalam melakukan aksinya mereka bisa memarkir mobil operasional untuk sengaja memblokir di depan truk calon korban, hingga mempersulit truk tersebut keluar dari tempat parkir.

Ketika sopir truk calon korban sedang kebingungan mencari pemilik mobil yang menghalanginya, eksekutor langsung meyergap, mengikat dan memasukkannya kedalam mobil operasional.

Ketika truk yang menjadi korban keluar dari rest area, sopir asli sudah digantikan oleh sopir palsu dari kawanan begal untuk selanjutnya dibawa bermanuver setelah GPS dimatikan dulu sebagai upaya pengelabuhan jejak sebelum akhirnya dibawa ke gudang penampungan milik tukang tadah.

Sementara mobil operasional berjalan menuju ke arah yang manipulatif untuk membuang sopir truk korban. Bisa juga di jalanan sepi antar kota, kawanan begal menghentikan truk calon korban dengan dalih sebagai polisi yang sedang melakukan cek rutin, sebelum menyergapnya.

Tak jarang dalam melakukan aksinya kawanan begal truk ini ditalangi biaya dulu oleh tukang tadah yang akan diperhitungkan setelah operasi selesai dengan hasil incaran komoditas dalam jumlah banyak yang harganya mencapai ratusan juta bahkan miliaran rupiah.

Yang terakhir adalah bajing loncat yang sering beroperasi dua orang dengan cara mengandalkan keterampilan menunggang sepeda motor.

Modus awalnya mereka menguntit truk yang sudah diyakini mengangkut barang yang sedang mereka incar. Kemudian secara akrobatik tiba-tiba salah satu dari mereka sudah bisa meloncat dan berada diatas atau didalam bak/box truk.

Biasanya bajing loncat mengincar barang komoditas tertentu yang bentuk kemasannya tidak terlalu besar, namun harganya mahal dan tentu saja gampang dijual. Umumnya semua jenis kejahatan terhadap truk, baik itu pemerasan, pembegalan maupun bajing loncat, jarang sekali ada yang mengincar kendaraan truk nya, mereka hanya mengincar barang muatannya saja. Ada kawanan begal yang memang mengkhususkan diri sebagai spesialis truk nya, namun dengan semakin meratanya sistem codeing pada seluruh komponen suku cadang truk pergerakan mereka pun sudah semakin sulit dan jarang.

Sebenarnya tidak ada satu pun kawanan begal yang bertujuan membunuh sopir / kernet truk korban, biasanya jika sampai ada korban jiwa adalah karena adanya perlawanan dari korban atau lantaran begalnya belum berpengalaman sehingga mengalami kepanikan atau demam panggung akhirnya secara tidak sengaja membunuh. Mereka sadar pembunuhan hanya akan memperberat kasus dan hukuman saja, seandainya mereka sampai suatu ketika tertangkap.

Barang komoditas yang menjadi idola para pelaku kejahatan terhadap truk pun biasanya hanya berkisar pada barang kebutuhan pokok sehari-hari (fast moving consumer goods), hasil bumi, biji plastik, rokok dan beberapa barang mewah lainnya.

Mereka juga tidak asal ambil barang saja, karena jaman sekarang hampir semua produk industri sudah diberi barcode / register, sehingga selalu dapat terlacak kemana pun barang tersebut beredar.
Hal seperti barcode inilah yang nantinya akan mempersulit penjualan barang hasil rampokan.
Sebenarnya kemajuan teknologi informasi sekarang ini sudah banyak sekali mengurangi kasus pembegalan.

Selain barcode yang terdapat pada barang muatan, umumnya truk juga sudah menggunakan GPS / RFID yang bisa terlacak sampai minimal ke lokasi pergerakan terakhirnya. Sopir zaman sekarang kebanyakan juga sudah jarang membawa uang tunai dalam jumlah besar, karena mereka rata-rata sudah terbiasa mengandalkan transaksi non tunai ( cashless ) untuk belanja di supermarket, bayar tol, bahan bakar, bahkan penyeberangan antar pulau.

Jadi kembali munculnya fenomena maraknya kasus perampasan, pembegalan dan bajing loncat yang akhir-akhir ini sempat menghantui para sopir truk, murni adalah kasus insidentil karena desakan ekonomi saat wabah virus Covid-19 sedang memporak porandakan ekonomi dunia saja, bukan trend.

Adapun kiat-kiat bagi para sopir menghindari terjadinya kasus perampasan, pembegalan dan bajing loncat adalah =

1. Hindari berhenti di daerah sepi, gelap & rawan
2. Siapkan uang pecahan kecil untuk memberi jatah preman yang sering mencegat truk di tengah kepadatan lalu lintas
3. Usahakan jangan sampai preman jalanan itu naik ke kabin truk, karena akan mempersulit keadaan
4. Sebisa mungkin usahakan truk berjalan secara beriringan ( konvoi ) dengan beberapa teman
5. Jangan beristirahat / makan di tempat yang tidak biasa dijadikan sebagai tempat mangkal para sopir
6. Jangan banyak bicara tentang jenis muatan, harga muatan dan tujuan anda saat berada di warung
7. Abaikan sapaan orang yang sok kenal terhadap anda
8. Ajaklah teman sopir lain atau petugas keamanan untuk menemani mencari pemilik mobil yang diparkir menghalangi truk anda di rest area
9. Jangan berhenti ketika ada yang menyetop truk di tengah perjalanan, sambil anda mencari pos polisi terdekat untuk bertanya dan minta perlindungan
10. Bunyikan klakson sekeras mungkin untuk menarik perhatian sekitar jika perlu.
(Bambang Widjanarko/ Wakil Ketua Aptrindo Jateng & DIY)