Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Saat wabah covid 19, banyak perusahaan tutup sementara. Tak sedikit pengusaha yang terpaksa mengambil tabungannya untuk membayar gaji karyawannya. Salah satunya pengusaha yang bergerak dibidang angkutan truk. Hal itu dikemukakan Wakil Ketua DPD Aptrindo Jateng & DIY, Bambang Widjanarko, kepada bisnissurabaya.com, Jumat (24/4) kemarin.

‘’Saat wabah corona ini, banyak pengusaha angkutan truk yang untuk membayar gaji karyawan termasuk mitra kerja, seperti sopir dan kernet harus ngeruki tabungan. Termasuk buat membayar THR. Mudah-mudahan wabah covid 19 ini segera berakhir,’’ kata Bambang Widjanarko. Meski demikian, sekitar 200-an anggotanya tetap berusaha untuk menjalankan usaha sebisanya.

Meski dengan penuh keterbatasan, sambil mengikuti kebijakan pemerintah yaitu Pembatasan Sosial Berskala Besar/PSBB yang sudah diterapkan di banyak daerah di Pulau Jawa ini. Bahkan, beberapa anggota sudah ada yang mengajukan insentif berupa penundaan pembayaran leasing, namun belum semuanya mendapat jawaban tegas dari pihak leasing.
Ia menceritakan, di musim corona ini ada persoalan baru muncul. Yakni, masalah keamanan dari para begal yang semakin berani & permintaan upeti dari preman di jalanan yang sudah dialami oleh beberapa transportir.

Meski demikian, pihaknya tetap yakin selama ini Polda Jateng bisa menguasi keadaan di jalanan. Agar selamat, menurut dia, sekarang pola jalannya truk diharapkan konvoi berbondong-bondong dan jika perlu untuk muatan barang tertentu minta pengawalan khusus. Tentunya hasil kesepakatan bersama dengan menanggung beaya bersama dengan pemilik barang. Pada bagian lain, ia menceritakan meski sangat sulit di tengah badai corona, operasional tetap bisa berjalan.

Karena tidak semua truk yang ada di garasi masih kredit. Umumnya dari tiga unit truk yang sudah lunas harus ‘menggendong’ satu truk yang masih kredit. Sebab, tidak mungkin satu truk yang sudah lunas harus menggendong 1 unit truk yang masih kredit. Sebab, truk yang ngandang/tidak beroperasi tentunya tidak ada beaya.

Sebab, kata dia, selama ini sopir dan kernet kebanyakan berstatus mitra dalam dunia angkutan barang. ‘’Kalau jalan ada bagi hasil, kalau diam ya tidak ada beaya sopir & kernet,’’ ujarnya. Di tengah wabah pandemic covid 19, pihaknya tidak bisa menuntut macam-macam kepada pemerintah saat ini. Karena tidak satu negara pun yang siap menghadapi pandemi ini.

Karena itu, dengan terpaksa pengusaha semua harus bertahan dengan caranya sendiri-sendiri. Namun yang luar biasa adalah semakin terlihatnya kebersamaan antar sesama dimasa sulit ini. Yang menjadi kekhawatiran para pengusaha truk anggota Aptrindo, adalah bagaimana nasib sopir & kernet, jika keadaan berlarut-larut sampai lama. ‘’Kami sulit sekali jika sampai harus mendengar ada sopir dan kernet yang sampai gak bisa makan.

Hal inilah yang menjadi titik berat usaha kami untuk memastikan tidak ada sopir & kernet yang kelaparan,’’ kilahnya. Bagaimanapun juga, kata dia, mitra yang paling setia dan duta perusahaan diwaktu normal adalah mereka. Sekarang utilisasi tinggal 40 persen, jangan sampai menjadi 10 persen. (bw)