Surabaya,(bisnissurabaya.com) – Merebaknya virus corona berimbas pada pendapatan UMKM. Terutama sektor kuliner, ritel dan layanan jasa lainnya turun lebih dari 40 persen. Penurunan ini seiring perubahan perilaku konsumen yang cenderung mengandalkan layanan online. Terutama kebijakan pemerintah untuk bekerja dan belajar di rumah.

Harapan adanya perbaikan ekonomi di tahun ini pasca pandemi Covid-19 dari ketidakpastian baru akibat munculnya wabah virus corona yang berasal dari China dan menyebar luas ke berbagai negara ini telah memporak-porandakan ekonomi, termasuk Indonesia dan memicu munculnya krisis baru. Pengamat dan Peneliti Ekonomi Dr Slamet Riyadi, mengatakan, dampak negatif pandemi dirasakan paling signifikan oleh UMKM yang masih menjalankan usahanya secara offline. “Disemua sektor mengalami penurunan, dampak paling besar di toko offline,” kata dia dalam konferensi video pada Jum’at (17/4). Tentu, pasca pandemi nanti perlunya kebijakan pemerintah pasca pandemi corona, memberi kepercayaan lebih terhadapat mĂ syarakat dengan giatkan pengembangan ekonomi mandiri, perusahaan besar milik indonesia/BUMN/BUMD memberi kesempatan dan pembinaan terhadap UMKM dengan membuat produk turunannya maupun produk-produk sebagai bahan baku di industrinya.

Dosen Universitas 17 Agustus Surabaya ini terobosan yang dilakukan pemerintah yakni tumbuhkan harga diri dan percaya diri masyarakat. Sehingga, kreativitas dan inovasi masyarakat timbul dan berkembang. “Kalau kreativitas dan inovasi timbul maka akan mengakibatkan harga murah dan pada akhirnya bisa menghidupi dirinya sendiri. Artinya pembiayaan untuk masyarakat tidak melalui hutang, karena hutang negara sudah diluar kemampuan pembayarannya,” tandas Slamet.

Upaya lain yang dilakukan pemerintah pasca pandemi corona, lanjutnya, memberi kesempatan ke perusahaan besar milik warga indonesia maupun BUMN berkolaborasi dengan UMKM dalam pembinaan serta pengembangan usahanya didukung dgn kesigapan UMKM. Kebijakan itu, lanjut Slamet, bisa dilakukan membuat ketentuan atau PP yang mewajibkan BUMN atau perusahan besar untuk membina dan bekerjasama dengan UMKM, diantaranya, alokasi dana CSR diarahkan ke UMKM tidak lagi 2,5 persen namun dinaikan. “Walaupun ada konsekuensinya yang akan terjadi,” katanya.

Tentu dengan pemberdayaan masyarakat akan tumbuhkan kepercayaan masyarakat ke pemerintah. “Jangan mengandalkan hutang ke luar negeri saja, enaknya sesaat tapi menanggung susah yang berkepanjangan yang menanggung masyarakat dengan derita mereka disebabkan keputusan salah saat ini,” pungkasnya. (ton)