Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Pijat, siapa takut? Panti pijat tradisional tuna netra adalah salah satu sektor usaha yang terdampak langsung wabah virus corona. Betapa tidak, usaha bidang jasa yang mengandalkan sentuhan tangan untuk mengobati dan mengembalikan kebugaran adalah salah satu hal yang harus dihindari dalam prosedur pencegahan penyebaran virus corona. Tentu saja, kondisi ini tidak menguntungkan bagi para penyandang disabilitas yang menjadi tenaga kerja di berbagai panti pijat tuna netra tersebut.

Sebab, selama ini kemampuan memijat itulah yang menjadi sandaran mereka dalam mencari nafkah. Panti Pijat Sumber Sehat yang dikelola Ahmad Budianto, yang berada di kawasan Manukan Tengah, adalah contoh nyata dari kejamnya serbuan corona. Sebelum ada wabah, pengunjung yang hadir di tempat pijat ini bisa mencapai 20 orang. Kini hanya tinggal 2 sampai 3 orang saja.

Akibatnya beberapa therapist tuna netra yang ada disana memilih untuk cuti dan pulang ke rumah masing-masing di desa. Promeg 2019, salah satu organisasi massa yang berafiliasi kepada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) merasa tergugah untuk membantu meringankan beban kaum difabel tuna netra tersebut. Mereka tidak hanya mengucapkan kalimat menghibur, tetapi juga memberikan solusi nyata dengan mengerahkan kru ambulance yang selama ini bekerja melayani masyarakat yang kesusahan untuk pijat bersama di Panti Pijat Sumber Sehat.

“Kami sengaja membawa teman-teman untuk pijat disini. Selain untuk membuktikan bahwa pijat disini aman bebas corona, juga untuk meringankan beban therapist yang di oleh sepinya pengunjung,” kata Ketua Promeg 2019, Megawati, kepada bisnissurabaya.com belum lama ini. Selain datang untuk pijat, rombongan Promeg yang datang mengendarai mobil ambulance tersebut juga membagikan sejumlah masker kepada para therapist dan penyandang disabilitas yang ada disana.

“Semoga masker tersebut dapat menunjang kinerja mereka sesuai anjuran pemerintah,” jelas alumni Untag Surabaya ini. Sebagai Ketua Promegs 2019, Megawati berkeinginan agar para penyandang disabilitas lebih mendapat perhatian dari pemerintah sebagaimana Peraturan Pemerintah dan Keputusan Presiden pada saat bencana. “Sebenarnya aturan tentang hak kaum disabilitas pada saat bencana sudah jelas, namun masalahnya sampai saat ini belum ada data yang jelas jumlah penyandang disabilitas di Surabaya,” tambah Arek Kalidami ini.

Karena itu, Promegs sudah berkoordinasi dengan Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya yang juga Ketua DPRD Surabaya, Adi Sutarwijono, supaya diperjuangkan pendataan by name by adress penyandang disabilitas yang ada di kota pahlawan. “Ini penting, supaya program pemerintah bisa tepat sasaran,” tambah perempuan cantik berhijab ini. (nanang)