Gresik, (bisnissurabaya.com) – Pudak sagu, menjadi salah satu makanan khas Gresik. Tak hanya memiliki rasa yang manis dan gurih, bentuk kemasan pudak kuliner ini juga memiliki keunikan. Yakni, terbuat dari kelopak daun pohon pinang atau biasa disebut ope. Kurangnya, regenerasi, ditambah perubahan Gresik sebagai kota industri, menjadikan semakin sedikit orang yang bisa membuat pudak.

Hal ini lantaran generasi milenial lebih senang bekerja di kantor atau pabrik.
Inilah pudak sagu, makanan atau jajanan khas kabupaten Gresik. Sebagai kota pelabuhan, Gresik menjadi titik temu para pedagang dan pembeli. Hal ini, menjadi awal mula terciptanya pudak.

Para pedagang yang hendak bepergian jauh, ingin membawa bekal penganti nasi, maka dibuatlah pudak. Hal ini, lantaran pudak terbuat dari tepung sagu yang kaya akan kalori dan bisa tahan hingga empat hari. Sehingga cocok untuk dibawa bepergian jauh. Pada awalnya, pudak hanya ada satu jenis, yakni, pudak sagu yang terbuat dari tepung sagu dan gula merah.

Namun, kini sudah ada pudak merah yang terbuat dari tepung beras dan gula merah, serta pudak putih yang terbuat dari beras dan gula pasir. Macam-macam pudak tersebut kini juga ada yang diberi campuran rasa, seperti daun pandan dan daun suci.
Untuk membuat pudak, dibutuhkan bahan-bahan seperti tepung beras atau sagu, santan, gula pasir atau gula merah, air, ope, dan rasa-rasa. Pertama, tepung sagu dan gula dicampur. Setelah rata lalu diberi air dan santan yang sudah direbus.

Kemudian diaduk-aduk dan diberi rasa sesuai selera. Adonan yang sudah jadi, selanjutnya dimasukkan ke dalam kelopak daun pohon pinang atau ope yang sebelumnya sudah dijahit dengan alur seperti huruf l tanpa sudut. Sehingga, sisi dan dasarnya tertutup dan membentuk ruang seperti gelas. Setelah adonan dituangkan, ujung kemasan yang terbuka dikuncupkan dan diikat, baru dikukus hingga 1 jam.

Setelah matang, pudak tinggal didinginkan dengan cara digantung per satu ikat atau 10 pudak. Dalam perkembangannya, kini para pembuat pudak semakin sedikit, lantaran banyak anak muda yang lebih memilih bekerja di pabrik-pabrik. Sunarti, 65 tahun, salah satu pembuat sekaligus pedagang pudak yang masih bertahan mengatakan memilih usaha pudak lantaran sudah menjadi usaha turun temurun keluarga. Ia sudah memegang toko pudak sindujoyo, di jalan Sindujoyo Gresik peninggalan sang ibu, Muyasaroh, sejak tahun 1976. Ia merupakan generasi kedua.

Ibu lima anak ini menjual satu ikat pudak berisi 10 buah dengan harga 25 ribu rupiah. Dalam sehari bisa habis 1000 pudak. Pembelinya mulai warga Gresik, Kalimantan, hingga Malaysia.
Diketahui, dari data diskoperindag kabupaten Gresik, jumlah pembuat kuliner pudak terus menurun.

Bahkan, pada 2019 tercatat hanya ada 9 orang. Sedangkan pedagang pudak jumlahnya puluhan. pedagang pudak berharap, ada perhatian dari pemerintah Gresik, terkait kelestarian kuliner tradisional dan khas Kabupaten Gresik, agar tetap eksis. (bashoir/stv)