Waspadai COVID-19, Bukan Panik

33
Amak Syariffudin

Surabaya (bisnissurabaya.com)- MESKIPUN pemerintah Tiongkok yang juga didukung pernyataan WHO, bahwa Covid-19 atau Novel Coronavirus alias Wuhan-virus “tidak seganas virus SARS/H1N1” (2004), namun gelombang kepanikan yang ditimbulkan virus itu lebih ganas. Kita masih ingat merebaknya wabah SARS/H1N1 atau lebih dikenal dengan nama “Flu Burung” dan “Flu Babi” yang juga berasal dari Cina. Meskipun demi kepentingan politik “harga diri” RRT, wabah yang sekarang dinyatakan “lebih lemah”, tetapi sudah lebih dari 73.000 orang terpapar penyakit sejenis flu diiringi batuk-batuk, sesak nafas akhirnya kehilangan nafas itu. Dalam waktu sejak menjelang pertengahan Januari hingga mendekati akhir Februari sudah lebih dari 2 ribu yang meninggal. Dari jumlah itu, lebih dari 2008 warga yang meninggal di provinsi Hubei yang beribukota Wuhan, Cina. Badan Kesehatan Dunia (WHO) meskipun baru menyatakan sebagai wabah (dunia) pada akhir Januari lalu yang seolah menunggu ada korban jatuh di kawasan Eropa dan daratan Amerika Utara dan Tengah, ternyata kini jadi ikut kebingungan. Semula WHO mengikuti kebijakan pemerintah RRT yang hendak “menutup-tutupi” wabah itu, sampaipun dokter muda yang “menemukan” munculnya Covid-19 malahan disalahkan dan dipecat oleh pemerintah RRT, namun kemudian ternyata dibenarkan dan direhabilitasi. Namun kasihan, sang dokter itu meninggal oleh penyakit tersebut. Kemudian pernyataan RRT yang dicurigai bersifat politis pola politik komunisme, bahwa virus itu tidak seganas SARS yang juga muncul dari Cina, sambil menonjolkan angka-angka pasien yang disembuhkan. WHO mendukung pernyataan itu, menjaga harga diri pemerintah RRT dan mungkin jangan sampai menimbulkan kepanikan warga dunia. Namun kenyataan angka kematian yang berkembang cepat (bisa dikata rata-rata mencapai di atas 50 orang seharinya) dan meningkatnya jumlah pasien di luar negeri yang terpapar virus itu.

Indonesia ternyata mampu menahan masuknya Covid-19 ke dalam negeri kita. Sedangkan seluruh negara di Asia mulai Korea, Jepang hingga sampai ke Singapura, tidak luput kemasukan wabah tersebut, karena dibawa oleh warganya atau orang asing yang datang dari negara yang terpapar virus tersebut memasuki negaranya. Tidak bisa disalahkan apabila ada beberapa pihak luar negeri yang meragukan: benarkah begitu? Apakah demi harga diri, kita “merahasiakan” bila ada yang terpapar?
Mereka itu tidak memahami, betapa Pemerintah kita secepat mungkin berusaha setengah mati menahan penyebaran virus itu ke dalam negeri melalui pengamatan-pengamatan ketat di bandara dan pelabuhan laut terhadap masuknya siapapun yang datang dari luar negeri, melarang masuknya orang-orang dari Cina daratan dan sekitarnya. Baru pada menjelang akhir Januari ditemukan 3 orang WNI terpapar virus itu. Itupun selaku anak buah kapal pesiar “Diamond Princess” (milik Holland American Line/HAL) yang sedang sandar di Yokohama, Jepang. Di kapal itu (banyak penumpang asal Cina) lebih dari 70 penumpangnya terpapar virus tersebut, sehingga crew asal Indonesia itu juga tertular dan harus dirawat di rumah sakit Jepang hingga kini. Sedangkan kapal pesiar lain “Westerdam” yang menyinggahi beberapa pelabuhan daratan Cina, terkatung-katung sekitar 3 minggu di Pasifik karena pelabuhan negara -negara di Asia melarangnya berlabuh, kecuali kemudian Kerajaan Kamboja mengizinkan berlabuh di kota Sihanoukville.

Ketakutan dan kepanikan tiba-tiba melanda pemerintah dan rakyat Singapore. Negara kecil berpenduduk padat dan padat lalulintas manusia dari seluruh dunia sebagai kota pusat perdagangan global serta kepariwisataan, terguncang karena ternyata “menerima” lebih dari 80 penderita wabah itu yang baru datang dari luar negeri. Kepanikannya bukan hanya soal penyebaran wabah yang meluas, akan tetapi dampaknya yang memukul perekonomian negara. Angka statistik perekonomian/bisnisnya menurun drastis. Pemerintahnya akhirnya merubah solusi proyeksi ekonominya tahun 2020 hanya sekitar 0,5-1,5 persen saja, mengikuti peringatan Badan Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) bahwa perdagangan dunia mengalami slowdown (melemah) pada tahun ini. Kepanikan itu tergambarkan dalam tayangan-tayangan/siaran media massanya, terutama dalam tayangan televisi nasionalnya, CNA.

Lalu, bagaimana seharusnya sikap kita selaku masyarakat? Pertama, kita percayakan sepenuhnya upaya Pemerintah di sektor kesehatan masyarakat khususnya dan yang berkaitan pada semua sektor kegiatan. Salah satu upayanya adalah bagaimana menangkal sebaran wabah itu memasuki negara kita. Biaya dari negara untuk upaya tersebut sangat tinggi. Antara lain sejak menyiapkan pemulangan WNI dari kota Wuhan hingga mengkarantina mereka di Natuna dan memulangkan ke rumah keluarganya beberapa waktu lalu. Biaya untuk “menjaga” dengan peralatan pemindai virus itu di bandara internasional dan pelabuhan-pelabuhan laut, dan pemberian cuma-cuma masker mulut dan macam-macam demi menangkal virus itu. Namun kita hendaknya tidak acuh-tak-acuh atau sembrono. Terapkan gaya “hidup sehat”, terutama di dalam kegiatan di luar rumah, dikerumunan orang banyak serta kebersihan tangan melalui mencuci dengan sabun disinfektan. Yang penting, kita tidak boleh panik, karena bagaimanapun juga, kalangan.

Pemerintahan di Pusat dan di Daerah wajib bertanggung jawab terhadap ancaman bahaya virus itu. Kalaulah seuimpama Covid-19 sampai masuk ke negara kita dan menyerang masyarakat di pedesaan, tidak dapat diperkirakan akan jatuhnya korban yang meninggal karena rumah-rumah sakit tak mampu menampugnnya ataupun karena letaknya jauh dari pedesaan. Kalangan Puskesmas jelas tidak layak dan tidak bisa mengatasinya. Hidup bersih dan sehat sangat penting dipahamkan ke penduduk oleh kalangan pemerintahan, terutama yang ada di daerah-daerah. Terutama daerah-daerah yang dekat dengan perbatasan negara Asia lainnya ataupun yang memiliki sarana perhubungan udara atau laut.

Dalam sektor bisnis, para pebisnis,– terutama yang berhubungan dengan produk-produk impor/ekspor,– bisa memaklumi melemahnya kegiatan perdagangan saat ini. Contoh, di Batam (Kep. Riau) yang merupakan pelabuhan utama kebutuhan produk bahan baku asal impor (terbesar dari Tiongkok) kini mulai merasakan kurangnya pasokan bahan baku untuk banyak industri di sana. Mulai ada rasa panik seperti ketika berhentinya sementara impor bawa putih ex-Cina buat rumah tangga dan industri di sini. Jadi, kalau diurut kerugian yang dibawakan Covid-19 bukan hanya pada nyawa manusia dan lalulintas hubungan antar manusia, akan tetapi langsung memukul operasional bisnis global seperti kepariwisataan, perindustrian, perdagangan maupun stabilitas pemerintahan. Urusan wabah virus itu juga merambah ke urusan politik, karena pemerintah Beijing minggu lalu mengusir 3 jurnalis asing yang melakukan liputan berita tentang virus itu secara terbuka, sehingga dianggap melecehkan kewibawaan pemerintah maupun partai komunis Tiongkok.

Kalau seumpama dua-tiga minggu lagi Covid-19 melemah atau bisa diatasi, maka dapat dikenali jejaknya bagaikan “mesiu” pembawa maut dan menggoyahkan sendi-sendi operasionalisasi perekonomian dunia. Dari Wuhan provinsi Hubei, RRT telah berhasil “meledakkan mesiu” percobaannya yang merugikan dan membuat panik masyarakat dunia! (amak syariffudin).