Surabaya,(bisnissurabaya.com)- Jalan Middle East Ring Road (MERR) IIC Gunung Anyar sisi barat, akhirnya diresmikan Sabtu (15/2). Proyek yang menghabiskan dana APBD pembangunan fisik lebih Rp 100 miliar, dan APBD pengadaan tanah untuk Pembangunan Jalan Merr IIC  lebih Rp 326 miliar itu.

Kini, akses jalan tersebut bisa dilintas warga. Jalan ini untuk mengurai kepadatan di ruas Jalan Ahmad Yani. Sebab, sebagian masyarakat yang hendak ke luar kota Surabaya, baik ke Sidoarjo maupun ke Bandara Juanda dapat memilih rute, bisa melalui rute Ahmad Yani atau bisa juga lewat Merr.

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, mengatakan, pada saat perencanaan dulu, jalan itu sempat mau dijadikan jalan tol. Namun, Risma, mengaku ngotot tidak mau karena dia memikirkan warganya yang nanti tidak bisa lewat.

“Kenapa saya ngotot tidak mau jalan tol? Karena saya tahu bahwa warga saya masih banyak yang memakai sepeda motor. Dengan jalan ini siapapun bisa lewat, tidak peduli kaya atau miskin. Tapi kalau jalan tol, maka yang hanya punya mobil saja yang bisa lewat,” kata Risma.

Selain itu, Wali Kota Risma, mengaku teringat filosofi kulit pisang di jalanan. Dulu, pada saat mengaji, kalau ada kulit pisang di jalan, disuruh untuk meminggirkannya. Sebab, kulit pisang itu bisa mengganggu mereka yang akan beribadah.

“Jadi, ini akses untuk mempermudah, digunakan untuk akses beribadah. Kalau seseorang mau bekerja, berarti dia beribadah. Kemudian ada pula seseorang yang mau beribadah ke masjid atau pun gereja. Makanya, meskipun dengan keterbatasan dana, saya tetap ngotot tidak mau tol,” imbuh Risma.

Disamping itu, Risma, mengajak warga Surabaya, khususnya warga Gunung Anyar untuk selalu mencari rezeki yang halal dan barokah. Makanya, kalau nanti ada yang mau membuka usaha di sepanjang jalan Merr ini, ia minta untuk tidak diganggu, karena rentetannya sangat panjang.

Ia mencontohkan, apabila ada yang mau membuka restoran di sekitar Merr ini. Saat membuka restoran, pasti dia membutuhkan juru masak dan para pelayannya. Nah, itu tentunya membuka peluang kerja untuk orang lain. Sehingga orang-orang itu bisa memberikan nafkah bagi keluarga dan anaknya bisa sekolah. Sehingga anaknya tidak melakukan perbuatan kriminal.

“Jadi, rentetannya panjang sekali. Itu namanya barokah. Makanya, setiap kali saya melakukan pembangunan di Surabaya, selalu saya pikirkan, jangan sampai ada yang menggangu. Jangan lupa ada hablumminallah dan hablumminanas,” pungkasnya. (ton)