Pintar Tak Cukup, Apalagi Keminter! 

152

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – ERICK THOHIR, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memberi pesan ‘tajam’ kepada stafnya: “Pintar saja tidak cukup, apalagi keminter. Kita butuh orang-orang yang dapat kerja dalam tim,” katanya ketika melantik 4 pejabat eselon-satu Kementeriannya sesuai Perpres 81/2014 (4/2). Ditegaskan, bahwa dalam pengelolaan sejumlah 142 BUMN yang punya asset senilai Rp 8,200 triliun itu tidak mungkin dijalankan sendiri-sendiri tanpa koordinasi. Jadi, bahwa kerja sama itu menjadi salah satu kunci pengelolaan masing-masing BUMN tersebut. Katanya, kerja sama tim itu sendiri merupakan salah satu dari tiga kriteria, yakni ahlak dan loyalitas kepada Negara yang harus dipegang teguh oleh para Pejabat Eselon I Kementeriannya dalam melaksanakan tugas. Menteri itu berpesan agar para Pejabat Pimpinan Tinggi Madya itu mampu menjadi katalisator dalam upaya Kementerian BUMN untuk mengelola setiap BUMN secara profesional dan transparan sebagai bagian dari transformasi birokrasi.

Pesannya itu disini dimuat cukup panjang, karena Erick Thohir kini dikenal sebagai Menteri yang bertindak tegas untuk usahanya “membersihkan” salah atau penyelewengan kelola banyak badan-badan usaha milik negara di bawah kementeriannya. Upaya tegasnya dalam usaha pemerintah untuk dapat mencapai efisiensi dan penghematan dana negara itu kiranya tidak bisa diragukan, karena pengalamannya di sektor pengelolaan perusahaan. Sebelum diangkat menjadi Menteri BUMN, Erick dikenal sebagai pengusaha sukses dalam perusahaannya Mahaka Group dan pemilik media ANTV. Dia meneruskan jiwa profesi selaku pengusaha nasional yang sukses seperti ayahnya, Teddy Thohir (pengusaha perusahaan mobil “Astra” bersama William Suryajaya). Sejak muda dia mengenal pahit-getir dunia bisnis besar, sehingga ketika Presiden Jokowi mengangkatnya menjadi Menteri BUMN, kiranya sudah patut ditugasi untuk “meluruskan pengelolaan” badan-badan usaha pelat-merah itu pada jalur sebenarnya. Masalahnya, sudah menjadi rahasia umum, bahwa management beberapa BUMN kelas besar dan menengah menjadi sumber perbuatan korupsi dan salah urus. Tidak salah, dia mulai “menyikat” antara lain management Pertamina dengan mengganti personalia pimpinannya, termasuk mendudukkan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) selaku Komisaris Utama. Karena pengelolaan BUMN itu sudah melenceng dan menjadi sarang “mafia migas” yang terdiri dari beberapa anak-anak perusahaan ataupun perusahaan-perusahaan swasta kerjasamanya milik perorangan, kelompok oramng ataupun malahan ada yang aktif dalam kepemimpina parpol yang memanipulasi jual-beli sampaipun peredaran (impor-ekspor) minyak bumi berikut kepentingan peralatan dan lain-lain dari/untuk perusahaan tunggal minyak kita itu.

Kemudian mulai membersihkan PT Garuda Indonesia dengan memecat direktur utamanya, antara lain disebabkan menyelundupkan sepeda motor Harley Davidson berikut peralatan otomotif lainnya. Mengganti susunan personalia pimpinan management perusahaan penerbangan itu, antara lain karean melakukan korupsi dalam pembelian sukucadang pesawat terbangh dna lain-lain. Beberapa BUMN sedang diincarnya untuk diperbarui apabila pimpinannya tidak mampu atau bertindak menyimpang dari kriterianya, yakni “pintar saja tidak cuikup, apalagi keminter. Butuh orang-orang yang dapat bekerjasama atau kerja dalam tim”.
Kerjasama dalam suatu tim dalam perusahaan BUMN itu sangat penting, karena badan usaha tersebut bukan milik perorangan. Terlebih lagi bukan milik pimpinan perusahaan tersebut. Akan tetapi milik negara, karena menyangkut juga kepemilikan negara maupun rakyat yang diwakili oleh pemerintah. Kemudi pengelolaannya memang diserahkan pada pimpinannya seperti direktur utama dan para direktur di bawahnya, sehingga sesuatu keputusan kebijakan yang penting hendaknya tidak atas keinginan pimpinan itu, melainkan dari hasil pembahasan dari timnya, yakni dengan para direkturnya atau staf pimpinan lainnya.

Pengalaman keberhasilan grup perusahaan yang dipunyai dan dipimpinnya, membuat Erick Thohir bisa berpesan sebagaimana disampaikan ketika melantik eselon-satu di kantornya. Sedangkan pesannya yang mengarah tentang apa dan bagaimana arahan dan tugas BUMN, ditegaskan tentang ahlak (mentalitas/ moralitas) dan loyalitasnya pada negara. Unsur ahlak memegang peranan penting dalam kepemimpinan. Artinya, dia mengingatkan para staf eselon itu agar tidak tergoda untuk melakukan korupsi. Ataupun dapat bertindak tegas kepada para stafnya apabila melakukan tindak bersifat kriminalitas yang merugikan badan usahanya dan negara. Di situlah diartikan juga sebagai loyalitas kepada negara yang menjadi pemilik dari BUMN masing-masingnya.
Kiranya Erick yang merencanakan untuk mendirikan BUMN Farmasi guna mengatasi produk obat-obatan asal impor, bakal benar-benar memilih siapa saja yang menjadi pimpinannya. Karena, tujuan didirikannya BUMN baru itu guna menekan biaya/harga obat-obatan impor dan penggunaannya yang terus meningkat melalui program kesehatan nasional BPJS. (amak syariffudin)