Surabaya,(bisnissurabaya.com) – Tindakan Wali kota Surabaya Tri Rismaharini, yang melaporkan netizen Zikria Dzatil, yang akhirnya ditahan mendapat tanggapan beragam. Penahanan ibu tiga anak ini menyita perhatian publik dengan gaya kepemimpinan Wali Kota yang kerap disapa Risma itu. Bahkan, kritikan keras pernah dilontarkan Cak Anam ‘Choirul Anam’, Dewan Kurator Museum NU Surabaya. Menurut Cak Anam, Risma hanya mementingkan pencitraan, menata bunga, selebihnya diatur bawahan tersebut.

Tak hanya itu, tudingan pencitraan terhadap Risma pernah disoroti politikus NasDem yang juga Sekretaris Fraksi Demokrat-Nasdem DPRD Surabaya, Imam Syafi’i, yang menuding pejabat Pemerintah Kota Surabaya melakukan pencitraan karena sering turun ke rakyat.

Hal itu disampaikan Imam Syafii, pada saat menanggapi jawaban wali kota atas pandangan fraksi-fraksi terkait RAPBD Surabaya 2020.

Namun, pembelaan datang dari Ketua DPRD Kota Surabaya Adi Sutarwijono, yang menilai gaya Wali Kota Tri Rismaharini, yang sering blusukan atau turun ke lapangan menginspirasi pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya.

“Wali Kota Risma siapa pun tahu, sangat dicintai rakyat Surabaya. Itu karena Bu Risma sering turun ke lapangan untuk bertemu rakyat. Ia tahu keadaan di masyarakat, dengan mata kepala sendiri. Dari sana, lahirlah kebijakan pro-rakyat,” ujar Adi Sutarwijono.

Menurut Adi, gaya Risma itu menginspirasi pejabat-pejabat di Pemkot Surabaya untuk rajin turun ke lapangan. Bahkan, pejabat di level kelurahan dan kecamatan Pemkot Surabaya juga rajin turun ke warga.

Sementara, Ketua Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) Jawa Timur/Jatim, Muhammad Said Sutomo, menyoroti soal perencanaan tata kota dan lingkungan di Surabaya di era kepemimpinan Risma.  Terutama dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan drainase atau box culvert. ”Ini seharusnya tidak sekedar berdasarkan estetika, kepentingan pencitraan belaka,” kata Said Sutomo, Jumat (7/2).

Menurut Said, pekerjaan itu harus menggunakan landasan ilmu topografi, sehingga tidak lagi terjadi genangan air atau banjir ketika turun hujan seperti beberapa waktu lalu.
Genangan air atau banjir di perkotaaan, lanjut Said, adalah potret perencanaan dan pelaksanaan pembangunan saluran irigasi pematusan dengan menggunakan box culvert tidak berlandasan ilmu topografi.

Sayang, ketika wartawan ini melakukan konfirmasi Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan (DPUBMP) Kota Surabaya, Erna Purnawati, tidak menanggapi sorotan YLPK terkait pembangunan gorong-gorong dengan box culvert.
(ton)