Surabaya, (bisnissurabaya.com) BAPUT singkatan dari bawang putih. Komoditas sayur-mayur itu menurut catatan BPS yang diimpor ke Indonesia (2019) sejumlah 465,34 ribu ton senilai 529,97 dolar AS. Sejumlah 90 persennya berasal dari China. Ternyata warga di negara kita sangat menyukai baput untuk masak-memasak, untuk obat-obatan tradisional maupun bahan farmasi dan lain-lain. Produksi dalam negeri masih belum bisa memenuhi kebutuhannya yang meningkat terus.

Ketika Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyatakan pemerintah untuk sementara menghentikan produk makanan dan minuman asal Cina akibat bahaya coronavirus asal Wuhan, sudah jelas baput termasuk salah satu komoditas yang terkena peraturan itu.

Yang jelas, beberapa pedagang yang menyimpan stok baput kini siap-siap “jual mahal” alias bakal menaikkan harga komoditas itu di pasaran. Mereka tahu, bahwa baput bukan hanya untuk para ibu-ibu di dapurnya, akan tetapi yang paling banyak “mengkonsumsinya” adalah untuk keperluan industri bahan makanan.
Kalaulah pernyataan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, terbukti benar adanya, bahwa stok baput di dalam negeri mencukupi kebutuhan, dengan sendirinya harga baput di pasaran akan normal. “Cadangan untuk bawang putih panen lokal sudah kami siapkan. Insya Allah memenuhi apa yang menjadi kebutuhan. Karena impor yang kemarin kita masih punya cadangan (kalau) menurut hitungan kita,” katanya usai meninjau harga-harga di pasar Jakarta (3/2).

Sedangkan Dirjen Hortikultura Kemtan, Prihasto Setyanto (Anton) menyatakan, bahwa dalam Maret mendatang seharusnya kebutuhan baput nasional bisa dipenuhi oleh panen dari dalam negeri. “Mulai bulan Maret ada panen ada panen cukup luas. Lebih dari 6.000 hektare bawang putih. Kalau 6.000 hectare
rata-rata hasilnya 10 ton per hectare saja, itu sudah 6.000 ton.” ujarnya. Menurut dia, secara nasional baput 45.000 ton, artinya panen Maret 60.000 ton nanti akan bisa memenuhi kebutuhan nasional. “Ini bukan hanya (dijadikan) benih yang bisa juga dikonsumsi. Bulan Maret ada sekitar 60.000 ton kebutuhan bawang putih nasional kita yang rata-rata 45.000 ton. Artinya itu untuk satu bulan cukup.”
Tidak ada penjelasan atau perkiraan sesudah dalam Maret kebutuhan nasional Baput kecukupan. Apakah impor baput asal Cina sudah bisa dilakukan lagi, ataukah impor dari negara lain seperti dari India, ataukah dapat dicukupi sendiri secara nasional. Sayangnya, tidak disebut-sebut berapa sebenarnya perkiraan produksi baput produk kita sendiri, sesudah pada tahun lalu pernah Kementerian Pertanian menyatakan memperluas lahan pertanian baput, antara lain di lereng gunung Raung atau Ijen di kabupaten Banyuwangi dan di kabupaten Bojonegoro. Dua kabupaten itu merupakan bagian dari proyek Kementan tahun lalu, di mana waktu itu Dirjen Holtikultura saat itu, Suwandi (18/2/2019) yang dengan bangga mengemukakan bakal terpenuhinya produk baput nasional dari 10,6 ribu ha proyeknya di kabupaten-kabupaten yang sesuai agroklimat baput. Yakni di Jawa 14 kabupaten, Bali/NTB 11, Sulawesi 10, Maluku/Papua 7 kabupaten. Katanya, produknya bakal “tutup kraan impor” baput.

Pertanyaannya, apakah proyek itu masih berjalan atau mandek karena ganti Menteri Pertanian dan juga Dirjen Hortikulturanya? Sebab, secara bijaknya, sesuatu program ataupun proyek selama itu baik dan benar, jangan terputus karena bergantinya pimpinan pada kementerian atau instansi bersangkutan. Dalam mengurusi pengadaan bawang putih yang nampaknya sepele tetapi kenyataannya jadi urusan ekonomi dan perdagangan nasional kita itu, juga bisa dijadikan ukuran oleh masyarakat (terutama yang berkepentingan dalam kebutuhan dan jual-beli baput) sejauh mana kalangan Pemerintah berkemampuan menangani permasalahannya. Lepas dari coronavirus bisa diselesaikan oleh pemerintah RRT sendiri dan negara-negara yang terdampak wabah dunia itu ataukah bakal terulur-ulur waktunya, maka urusan bawang putih bagi konsumsi kita itu perlu ditangani oleh Kementerian-kementerian yang bersangkutan. Kalau perlu muncul lagi sesumbar yang bisa direalisir, yakni “tutup kraan impor baput”. (amak syariffudin)