Manfaat Tiga Bendungan di Daerah Kering

27

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – PENDUDUK Jawa Timur/Jatim sudah maklum dengan mencirikan tiga wilayah kabupaten yang daerahnya “kering” dan punya “kantong-kantong banjir” di setiap musim penghujan. Tiga kabupaten itu adalah Ponorogo, Pacitan dan Bojonegoro. Padahal, ketiganya mempunyai potensi alam dan pertanian yang besar. Bukan hanya untuk warga kabupaten bersangkutan, tetapi untuk warga di provinsi Jatim. Bahkan bagi kebutuhan nasional.

Karenanya, pemerintah sejak 2013 lalu sudah menetapkan dibangunnya bendungan-bendungan air bersifat multi-fungsi yang dirampungkan pengerjaannya dan memfungsikannya pada 2020 ini. Sejak tahun ini, bendungan itu dalam fungsi utamanya untuk mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat di kawasan tiga kabupaten tersebut.

Ditjen Sumber Daya Air/SDA Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menargetkan penyelesaian bendungan-bendungan Bendo di Kabupaten Bojonegoro, Bendungan Tukul di Kabupaten Pacitan dan Bendungan Gongseng di Kabupaten Bojonegoro, dengan melaksanakan impounding (pengisian air), pengecekkan dan kemudian diresmikan. “Ketiganya merupakan bagian dari 65 pembangunan bendungan yang menjadi Program Strategi Nasional Pemerintah yang dikerjakan oleh Kementerian PUPR,” ujar Menteri PUPR Basuki Hadimulyono, di Jakarta Rabu (22/1). Menurut dia, ketiga bendungan itu punya fungsi multiguna bagi kebutuhan masyarakat di sekitarnya dan kabupaten bersangkutan. Yakni, sebagai pengendali banjir, pengadaan sumber air baku, sumber air daerah irigasi dan juga ada yang untuk pembangkit listrik.

Bagaimana sebenarnya profil kawasan yang bakal diberi manfaat bendungan-bendungan itu? Kiranya rincian pokok fisiknya dapat diketahui oleh warga di provinsi ini. Sedangkan fungsi dan manfaat itu dari bendungan masing-masing terhadap wilayah sekitarnya adalah sebagai berikut :
Bendungan Bendo di Kabupaten Ponorogo terletak di kawasan pegunungan yang kering, berbatasan dengan Kabupaten Madiun. Karenanya, daerah pertanian yang ada disekitar lokasi itu selalu kekurangan atau sama sekali tidak ada air irigasi di musim kemarau. Pertanian pun lebih mengarah pada pola tanam tadah-hujan. Bendungan itu digali, sehingga punya ketinggian tebing 79 meter, bakal menampung air 43,11 juta meter-kubik (M3) dan dapat mengirim daerah pertanian seluas 7.800 hektare yang berada di Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Madiun. Selain itu bisa menyalurkan air-baku 780 liter/detik dan pembangkit listrik kecil 4 MW serta mengurangi banjir tahunan 490 meter kubik/detik. Beaya kontrak pembuatannya mencapai Rp 709,4 miliar.

Bendungan Tukul di Kabupaten Pacitan lain lagi. Secara geografis, kabupaten yang seolah “terputus” dengan daerah lain di Jatim akibat deretan pegunungan Pantai Selatan, dikenal sebagai daerah kering. Sungai besar, Grindulu, dengan batu-batu gunung sebesar gajah, justru anak-anak sungainya menjadikan banjir tahunan di pedesaan sampaipun kota Pacitan yang merupakan hamparan tanah datar bertepikan Pantai Samodera Hindia. Di kawasan pegunungan tandus itulah dibangun bendungan Tukul untuk menampung 8.68 juta meter kubik air guna supply irigasi 600 ha dan 300 liter/detik air baku. Pembangunannya berbiaya kontrak Rp 636 miliar, fungsinya sekaligus mengurangi air banjir tahunan yang menimpa kota Pacitan dari anak sungai Grindulu. Satu hal yang bisa membahayakan bendungan itu, dikarenakan sekelilingnya terdiri dari tebing-tebing curam yang bisa longsor, sehingga perlu dibuat “sabo-dam” untuk menahan pasir dan bebatuan dari hulu anak sungai itu. Nmaun khusus untuk Pacitan itu, menurut Menteri PUPR ialah: “Lanskap di sini juga ditata, karena Pacitan memiliki pemandangan bagus dan menjadi tujuan wisata,” kata Basuki Hadimulyono. Tampung air disana akan ditambah karena wilayah itu masuk daerah kering. Maklum, antara lain, sebagai daerah tujuan wisata (terutama dari arah Jogjakarta/Surakarta), selain pantai-pantainya menarik, juga gua-gua di pegunungan kapurnya menyimpan banyak sejarah dan harta (batu akik).
Bendungan Gongseng di Kabupaten Bojonegoro lain lagi. Mendapatkan air dari anak sungai yang bermuara di Bengawan Solo, mempunyai wilayah kering kerontang di musim kemarau dan banjir tahunan di musim penghujan, dengan kemampuan menampung air 22,43 juta kubik meter, diutamakan untuk fungsi irigasi seluas 6.191 hektare, layanan air-baku 300 liter/detik, mereduksi banjir 133,27 meter kubik/detik dan pembangkit tenaga listrik 0,7 MW.

Mengapa “cerita 3 bendungan” itu perlu kita ketahui dan fahami? Sejak dulu, sebagai warga provinsi ini sellau merasa bangga, karena provinsi Jawa Timur dikenal sebagai “lumbung pangan” untuk kebutuhan pangan nasional. Ancaman status dan keberadaan lumbung pangan itu akan berakhir dan hanya sebagai “kisah nenek moyang” kalaulah lahan berkurang, atau produksi berkurang karena bencana alam terutama banjir tahunan atau kekeringan. Belum lagi tenaga kerja di pertanian susut terus karena urbanisasi dari desa ke kota, disebabkan lapangan pekerjaan di pertanian susut keras akibat unsur-unsur susutnya kawasan pertanian, menyusutnya kesuburan tanah, rusaknya lahan oleh bencana alam dan macam-macam, sehingga kemiskinan di pedesaan akan bertambah. Seperti halnya instruksi Presiden Jokowi awal tahun lalu agar di desa-desa dibuat “embung” (kolam air) untuk mengurangi kekeringan dengan tujuan untuk kepentingan proses dan produksi pertanian (sekurang-kurangnya di desa masing-masing), maka dalam skala besar adalah pembangunan bendungan-bendungan seperti yang dalam beberapa bulan lagi akan diresmikan di Jawa Timur itu. Kali ini kita juga bisa berbangga, bahwa barangkali provinsi kita ini di negara kita, yang paling banyak punya bendungan air yang berfungsi dan bermanfaat.

Kita bersyukur karena memahami manfaat bendungan-bendungan itu yang sebenarnya bagi warga provinsi ini juga. Terutama pada sektor kepentingan pengadaan pangan dan kesejahteraan masyarakat di lahan-lahan yang semula selalu digenangi banjir di musim penghujan. Jadi, sekarang musim penghujan telah tiba. Bendungan-bendungan itu mulai diisi air menghadapi peresmiannya. Sekaligus akan teruji, sejauhmana peranan bendungan-bendungan itu, sekurang-kurangnya dalam mengurangi dampak banjir tahunan di tempat-tempat tersebut. (amak syariffudin)