Surabaya,(bisnissurabaya.com) – Cuaca ekstrem yang melanda Surabaya beberapa hari ini, patut diwaspadai masyarakat. Apalagi, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) mengeluarkan peringatan dini banjir rob untuk wilayah pesisir Surabaya, Sidoarjo dan Pasuruan.

Potensi banjir rob itu akan terjadi pada 9 – 11 Januari. Namun, masyarakat berharap memohon ampunan (Tuhan) agar tidak terjadi.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Kelas I Juanda Teguh Tri Susanto, mengatakan, pasang air laut maksimum diprediksi mencapai ketinggian 130 sentimeter hingga 150 sentimeter.

“Fenomena itu berdampak pada munculnya genangan air yang dapat mengganggu transportasi di sekitar pelabuhan dan wilayah pesisir,” kata Teguh, kepada bisnissurabaya.com Kamis (9/1).

Sehingga, dampak lainnya, banjir rob dapat mengancam aktivitas perikanan darat, aktivitas petani garam dan bongkar muat di pelabuhan. “Karena itu, warga di sekitar pesisir dan pelabuhan diminta waspada dengan memperhatikan update informasi cuaca dari BMKG,” ujarnya.

Teguh menjelaskan, banjir rob diprediksi terjadi di wilayah Pelabuhan Surabaya pukul 22.00 – 24.00 WIB. Sementara di pesisir Surabaya Timur, pesisir Sidoarjo dan pesisir Pasuruan, banjir rob terjadi pukul 22.00 – 23.00 WIB.

BMKG Juanda sebelumnya juga mengeluarkan peringatan dini tentang potensi cuaca ekstrem yang diprediksi bakal melanda wilayah Jawa Timur/Jatim.

Cuaca ekstrem itu, jelas Teguh, akibat pola tekanan rendah di Samudera Hindia selatan wilayah Nusa Tenggara yang menyebabkan terbentuknya pola pertemuan angin atau konvergensi di sepanjang wilayah Jatim.

Akan kondisi itu, dirinya, BMKG Juanda Surabaya memperkirakan, dalam sepekan ke depan, potensi curah hujan dengan intensitas lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang dapat terjadi.

“Kondisi ini terjadi di beberapa wilayah di Jatim sejak 4 – 10 Januari,” tandas Teguh. Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Perak Surabaya, Taufiq Hermawan menambahkan, kondisi cuaca secara umum di Jatim, termasuk Surabaya, telah memasuki puncak musim penghujan. Biasanya, puncak musim penghujan ini terjadi di bulan Januari dan Februari. “Jadi hingga bulan depan (Februari) kita masih berada di puncak musim hujan,” jelas Taufiq.

Kendati demikian, pihaknya mengapresiasi langkah yang dilakukan Pemkot Surabaya dengan melakukan pemasangan  Weather Information Display (WID) di beberapa titik pesisir pantai.

Menurutnya, melalui WID ini pemkot memberikan fasilitas masyarakat agar bisa memahami kondisi cuaca yang ada. Dengan begitu, mereka bisa mengetahui kondisi cuaca dan mengantisipasi lebih dini.

“Jadi ketika masyarakat mengetahui melalui display (WID), kondisi cuaca lembab masyarakat bisa mengantisipasi. Demikian juga ketika kondisi gelombang tinggi masyarakat juga bisa mengantisipasi,” pungkasnya.

Sebagai diketahui, selain memasang 6 WID di daerah pesisir pantai, Pemkot Surabaya juga memasang TV wall di balai-balai RW atau perkampungan nelayan. TV wall yang berjumlah 20 unit tersebut, juga berfungsi sama seperti WID yang dapat menampilkan layanan informasi cuaca secara realtime kepada para nelayan. (ton)