Surabaya, (bisnissurabaya.com) – SEMINGGU lebih sejak awal Januari lalu kapal (perang) penjaga pantai (coast guard) RRT berada di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia, perairan utara Kepulauan Natuna. Kapal itu mengawal kapal-kapal penangkap ikan Cina yang mencuri ikan di perairan itu. Kapal Cina itu ditugaskan Beijing karena mengklaim ZEE itu kawasan penangkapan ikan mereka yang disebut “9 dash-line RRT”. Gerakan kapal Cina itu jelas bersifat provokatif. Sengaja memancing minat awak kapal-kapal TNI-AL selaku Bakamla (Badan Keamanan Laut) untuk bertindak. Itu sebenarnya yang dikehendaki pimpinan militer di laut Beijing, sehingga dapat menimbulkan insiden bersenjata. Kejadian demikian akan dijadikan alasan ke dunia internasional yang dinyatakan “tindakan agresif Indonesia” dengan tujuan menguasai ZEE Indonesia, dibarengi ancaman kekuatan militer mereka.

Meskipun Presiden Jokowi menyatakan (6/1), bahwa “Tidak ada tawar menawar (tentang) kedaulatan RI terkait kejadian di Natuna”, namun Indonesia tidak melakukan tindakan kekerasan senjata. Sebab, kalau mau, cukup satu tembakan meriam atau sebuah roket saja dari salah satu kapal perang TNI-AL yang berada di sana untuk mencegah pencuri-pencuri ikan itu memasuki lebih jauh kawasan ZEE-RI bisa menenggelamkannya. Kapal penjaga-pantai itu sudah cukup jauh memasuki ZEE kita. Peringatan yang dilakukan oleh kapal perang kita ditolaknya, karena mengakui zona itu masuk milik RRT. Karenanya, TNI-AL harus mengirim dua kapal perang lagi, yang menurut Direktur Operasi Laut Bakamla, Laksamana Nursyaral Emban (6/1) untuk menangkapi kapal-kapal pencuri ikan Cina dan mengusir kapal penjaga pantai RRT itu. Dalam perpolitikan global, ZEE kita ditetapkan dalam IUU Fishing (UU penangkapan ikan secara illegal dalam UNCLOS/Konvensi PBB Tentang Hukum Laut). “ZEE Indonesia ditetapkan berdasar UNCLOS. RRT sebagai pihak dalam UNCLOS tersebut harus menghormatinya,” kata Menlu Retno LP Marsudi (2/1). Katanya, kita tidak memiliki batas tumpang-tindih dengan jurisdiksi RRT. “Indonesia tidak akan pernah mengakui 9 dash-line RRT, karena penarikan garis tersebut bertentangan dengan UNCLOS sebagaimana diputuskan melalui Ruling Tribunal UNCLOs tahun 2016,” sambung Menlu. Menanggapi pelanggaran wilayah itu, pemerintah menetapkan penyelesaiannya dilakukan lewat upaya diplomatik dan protes-diplomatik. Namun, RRT justru menambah jumlah kapal penjaga pantainya.

Kini bagi kita nampak jelas warna asli Cina (Republik Rakyat Tiongkok) dari ber-pemerintahan faham komunisme berubah menjadi berperilaku sebagai imperialis. Caranya, untuk menguasai kedaulatan negara-negara di Asia Tenggara. Sebutan “menghancurkan kapitalisme dan imperialisme” sebagaimana slogan propaganda pemerintahannya dibawah Partai Komunis Tiongkok (PKT) sekitar tahun 1960-1970-an yang diekspor melalui partai-partai komunis di negara-negara Asia Tenggara untuk melakukan pemberontakan ataupun teror politik. Termasuk ke Indonesia lewat PKI. Slogan itu dijadikan thema pengkhianatannya dalam G30S/PKI (1965).
Ketika negara Cina jadi besar, demi menyangga kehidupan rakyatnya yang ratusan juta dan terus berkembang, dalam pimpinan Presiden Li Peng, diubahlah arah politiknya demi perkembangan perekonomian dan kekuatan militernya. Jadilah negara adidaya. Arah pemerintahan berubah jadi kapitalistis, karena sebagai produsen dan eksportir besar di dunia harus bersifat demikian. Dari negara semula tertutup (negara “tirai bamboo”) menjadi “terbuka” oleh kepentingan dagangnya dan kekuatan militernya yang bisa melawan kekuatan militer negara-negara Barat, terkecuali lawan Amerika Serikat. Dari situlah muncul sifat asli Cina sebagaimana sejarah pemerintahannya sejak era Kublai Khan maupun kaisar-kaisar sesudahnya, yakni kapitalistis dan imperialistis.

Sejarah nasional kita mencatat rentetan tindakan imperialisme Cina yang mengancam kedaulatan negara dan bangsa kita sejak keberadaan Kerajaan Nusantara, Singhasari, dibawah Raja Kertanegara hingga menjelang lahirnya kerajaan nusantara Majapahit. (Baca “Sejarah Nasional Indonesia jilid II – Zaman Kuno”; Tim Nasional Penulisan Sejarah Indonesia; Balai Pustaka, 2010). Dalam kekuasaan Sri Maharajadhiraja Kertanegara meluas hingga pantai-timur Sumatera (prasasti arca Amoghapasa, Sungai Langsat, pemberian Kertanegara untuk raja yang tunduk kepadanya,1286 M.), perluasan wilayah Singhasari didorong ancaman dari daratan Cina, akibat sejak 1260 M berkuasalah Kaisar Shih-tsu Kubilai Khan yang mendirikan dinasti Yuan (1280). Kaisar itu memaksa negara-negara tetangganya untuk mengakui kekuasaanya dan mengirim upeti ke Cina. Kalau menolaknya tak mau, dipaksa dengan kekuatan senjata. Birma (kini Myanmar), Kamboja, Campa (Thailand, Laos) didatangi utusannya membawa pesan itu dan akhirnya harus tunduk. Utusannya, Meng-Chi datang ke Jawa (1289) membawa pesan agar Singhasari menyatakan tunduk dan berkirim upeti. Raja Kertanegara marah, mengusir utusan itu setelah melukai wajahnya. Ketika pulang dan melapor, Kublai Khan (kaisar Shih-Tsu) sangat marah dan tahun berikutnya mengirimkan armada besar dipimpin 3 panglima perang, Shih-pi, Ike Mese dan Kau Hsing.

(1290-1292) dengan ancaman membunuh Kertanegara dan Singhasari harus mengirim pangeran sebagai tawanan ke Cina sebagai tanda tunduk. Mereka tidak tahu, bahwa kerajaan Singhasasi diserang oleh kerajaan kecil kawannya, yakni Jayakatwang dari Gelang-Gelang. Pasukan pemberontak itu dibantu siasatnya oleh Arya Wiraraja (adipati Sungenep, kini Sumenep) yang merasa disingkirkan Kertanegara, menyerbu istana dan membunuh Kertanegara (1292 M). Babak baru sejarah kerajaan nusantara dimulai, ketika menantu Kertanegara, Raden Wijaya, meski mengakui tunduk tetapi berniat membalas dendam pada Jayakatwang yang jadi raja kerajaan Dhaha di Kadiri. Ketika armada Cina itu tiba di pesisir utara Jawa Timur (di Tuban pimpinan Ike Mese dan Kau Hsing dengan pasukan berkuda, Shih-pi ke pantai Sedayu (Gresik) dan dipecah lagi memasuki Kali Mas, muara sungai Brantas (Surabaya) pimpinan Shih-pi yang segera ditemui Raden Wijaya dan menunjukkan arah ke Kediri dengan kapal-kapal mereka lewat sungai Brantas. Tiga panglima perang itu tidak tahu, bahwa Kertanegara telah meninggal digantikan Jayakatwang yang dikiranya Kertanegara. Serbuan itu berhasil masuk istana dan Jayakatwang dibunuh. Menyusuri sungai kembali arah pantai, di Hujung Galuh (sebelah barat Surabaya sekarang) dihentikan Raden Wijaya dan diajak berpesta dulu atas kemenangan mereka. Dalam mabuk-mabukan itu, pasukan Cina diserang oleh pengikut Wijaya dibantu rakyat setempat dan beberapa kapalnya dibakar di sungai Brantas (perkiraan sekarang sekitar bendungan Kalimas/Kali Jagir, Surabaya). Sisa pasukan dan kapal-kapal perang Cina itu yang dari Kali Mas maupun pantai Tuban, terbirit-birit meninggalkan Jawa Timur dan tak pernah lagi kekuatan bersenjata kekaisaran Cina datang. Begitulah akhirnya Raden Wijaya mendirikan kerajaan nusantara Majapahit yang diawali dari desa Trik (kini kecamatan Tarik, Sidoarjo) kemudian mendirikan istananya di Trowulan, Mojokerto.

Sekilas sejarah saya cuplikan itu menunjukkan sifat-sifat imperialisme Cina dari sejak dulu. Sifat itu tumbuh kembali ketika kini negaranya merasa besar dan kuat. Dimulai sengketa tapal batas dengan Vietnam, lalu soal batas perairan dan pulau Spratley di Laut Cina dengan Filipina yang berlangsung hingga kini, merentangkan kekuasaan dan pengaruhnya dengan pola non-militer berdasar sejarah “Jalur Sutera” lewat laut melalui Selat Malaka hingga berbelok ke Rangon (Myanmar), India, beberapa negara di Afrika hingga ke daratan Eropa. Di negara-negara yang disinggahi diberi tawaran proyek dan pinjaman dananya. Tentu saja peralatan buatan mereka dan tenaga kerja orang-orang asal Cina. Tujuannya, selain bisa menguasai program-program pembangunan negara bersangkutan, kemudiannya mempengaruhi perekonomiannya. Salah satu bentuk imperialisme modern.

Jadi, kita perlu berhati-hati kalau mengikuti program perdagangan lewat laut “Jalur Sutera” mereka. Harus dipahami ada-tidaknya latar belakang yang akhirnya merugikan negara dan bangsa Indonesia. Sikap ngotot kasus kapal-kapal Cina di perairan ZEE Indonesia di Natuna itu merupakan gambaran sifat imperialistik Beijing yang perlu kita waspadai. Dulu ada pemeo, bila ada dua orang bersahabat yang lalu salah seorangnya mencederai/merugikan sahabatnya, dikatakan “hoping ciak kuping”. Artinya kawan sendiri yang “makan” sesamanya. (amak syariffudin)