Sidoarjo, (bisnissurabaya.com) – Sungguh malang nasib Saiful Ilah. Setelah menjabat selama 20 tahun di pemerintahan Kabupaten Sidoarjo, Abah Saiful, panggilan akrabnya harus berhadapan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi/KPK. Tim Satuan Tugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan di Sidoarjo, Selasa (7/1) sekitar pukul 23.00 WIB.

Dalam OTT kali ini, KPK menangkap Bupati Sidoarjo Saiful Ilah. Ini merupakan aksi pertama kali pada era komisioner baru lembaga antirasuah di bawah pimpinan Firli Bahuri. Terlebih, KPK mulai menjalankan prosedur kegiatan pemberantasan korupsi model baru mengacu pada UU No. 19 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua Atas UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Selain mengamankan Bupati Sidoarjo Saiful Ilah, dan beberapa pejabat teras di kota udang dan kontraktor. Penangkapan terhadap Bupati Sidoarjo tersebut terkait pengadaan barang dan jasa. “Terkait pengadaan barang dan jasa,” kata Plt juru bicara KPK Ali Fikri. Praktis, ini menambah daftar rentetan kasus korupsi yang melibatkan kepala daerah khususnya di Jatim.

Dari penangkapan itu sudah ada 13 kepala daerah tersangkut kasus korupsi di Jatim yang ditangani lembaga anti rasuah tersebut. “Nanti akan kita jelaskan para pihak yang terlibat dalam proyek pengadaan barang dan jasa di kabupaten tersebut. Yang bersangkutan masih dalam pemeriksaan tim penyidik kami,” ujar Ketua KPK Firli Bahuri.

Saat Pilkada Sidoarjo 2010, Saiful yang ketika itu diusung oleh PKB dan PKS berhasil meraih kemenangan signifikan perolehan suara mencapai 60 persen. Selanjutnya, pada Pilkada Serentak 2015, dia kembali terpilih menjabat bupati Sidoarjo untuk kedua kalinya lewat dukungan PKB, dengan raihan suara hampir mencapai 60 persen.

Selain di dunia politik, Saiful juga berprofesi sebagai pengusaha. Bisnis yang dijalankan politikus PKB itu meliputi industri padat modal seperti pabrik velg motor, pabrik panci, dan pabrik bahan baku obat nyamuk. Bupati Saiful Ilah turut tercatat sebagai alumni Fakultas Hukum Universitas Merdeka Surabaya. Ia pernah menduduki berbagai jabatan komisaris dan direktur di sejumlah perusahaan. Tak hanya itu, sederet jabatan lain pun pernah diembannya dalam berorganisasi. (ton)