Tuban, (bisnissurabaya.com)- Siapa yang tak kecewa bila harapannya tak terwujud. Misalnya, Bupati Tuban, Fathul Huda merasa kecewa berat dalam pelaksanaan proyek kontruksi dua  kilang minyak di wilayah kerjanya. Sebab, dua kilang di Tuban, PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), dan Grass Rooth Refinery (GGR) Tuban yang tidak mengutamakan warga asli kota ini sebagai pekerja. Kabar miring tersebut menjadikan orang nomor satu di Tuban itu kecewa berat.

Kecamatan Jenu, Tuban ditempati proyek dua kilang minyak, PT TPPI, dan GGR Tuban. Kilang GGR saat melakukan pembebasan lahan, dan pengurukan kawasan pantai. Sedangkan kilang TPPI memulai konstruksi lagi setelah terhenti pada 1998 silam.

Kilang TPPI di Tuban saat dikunjungi Presiden Jokowidodo beberapa waktu lalu. (Foto/imam)

“Saya telah menerima informasi ada pekerjaan tukang las di kilang dikerjakan orang luar Tuban. Jika informasi ini benar sangat saya sesalkan,” kata Bupati Fathul Huda, di Komplek Pendopo Krida Manunggal Tuban, Rabu (8/1)

Padahal, kata dia, banyak pekerjaan yang bisa dilakukan kontraktor lokal. Namun, malah dikerjakan anak perusahaan. Selain itu telah banyak warga usia kerja yang dilatih mengelas sesuai dengan kriteria teknik pengelasan yang dibutuhkan. Pemkab Tuban maupun pihak investor telah memberikan pelatihan, agar warga siap dilibatkan dalam proyek konstruksi kilang.

“Jangan hanya menyekolahkan, tetapi mereka harus mempekerjakan warga Tuban. Jangan biarkan mereka menjadi penonton. Berilah pekerjaan mereka,” tegas mantan Ketua PCNU Tuban tersebut.

Bupati dua periode yang akan mengakhiri jabatannya tahun 2021 itu menambahkan, seringkali dalam setiap pertemuan dengan pihak Pertamina dan TPPI maupun kementerian telah disampaikan agar pekerjaan yang bisa dilakukan orang Tuban diserahkan kepada warga Tuban. Termasuk pula pekerjaan konstruksi yang bisa dilakukan rekanan dari Bumi Ranggalawe.

Pihaknya menerima kabar adanya warga luar mengerjakan pekerjaan yang bisa dilakukan orang Tuban menjadikannya tak nyaman.

Ulama yang masih aktif berceramah agama tersebut menilai, ada praktik ketidakterbukaan dalam proyek konstruksi tersebut. Hal itu sama halnya merugikan warganya.

“Orang Tuban yang mengerjakan tapi benderanya milik anak perusahaan,” katanya.

Dalam waktu dekat,  pihaknya bakal  memvalidasi. Jika kabar tersebut betul berarti mereka tidak komitmen.

Di era kepemimpinannya Pemkab Tuban mengeluarkan Perda Nomor: 19 tahun 2016, dan Perbup 69 tahun 2017 yang mengatur prioritas warga lokal sebagai tenaga kerja industri. Kebijakan tersebut ditempuh untuk antisipasi agar warga Tuban dilibatkan dalam pekerjaan industri.

“Kita memang punya Perda tapi ada perijinan yang tidak melalui pemda, sehingga kita tak bisa mengontrol. Meski begitu telah jadi komitmen, agar pekerjaan yang bisa dilakukan warga Tuban tidak diberikan kepada orang luar daerah,” tambah Mustasyar PCNU Tuban tersebut.

Pihaknya, kata dia, tak ingin warga Tuban hanya menjadi buruh disaat industri berdiri di daerahnya. Selamanya tidak akan maju kalau hanya menjadi buruh. Saat ini harus diratakan semua yang memiliki kemampuan.

Public Relation & Corporate Social Responsibility (PR and CSR )Section Head PT TPPI Tuban, Taheran Sidik Prabowo, ketika dikonfirmasi, menyatakan, TPPI bekerjasama dengan UPT BLK Tuban telah membekali 20 pemuda asal Kecamatan Jenu dengan pelatihan K3 teknis scafolding periode IV November 2019.

Sebelumnya, pada 2018 menggelar pelatihan dua kali pengelasan 3G. Bahkan, kapasitas pesertanya akan ditingkatkan dari 3G menjadi 6G.

“Peserta las 3G saat ini sudah berpencar karena telah diterima dibeberapa perusahaan. TPPI akan tetap mendatanya supaya ketrampilan peserta 3G bisa naik menjadi 6G,” ujarnya.

Menurut dia, proyek kilang TPPI memiliki 441 pekerja. Mereka berasal dari Desa Purworejo (7 orang), Tasikharjo (24 orang), Remen (40 orang), Mentoso (1 orang), wilayah Kecamatan Jenu (21 orang), Desa Jenu (33 orang), Tuban (253 orang), dan non Tuban (62 orang). Prosentasenya dari desa ring 1 sebanyak 29 persen, dari Kabupaten Tuban 57 persen, dan non Tuban sebanyak 14 persen. (imam suroso)