Surabaya, (bisnissurabaya.com)- Hati-hati bagi calon nasabah yang hendak membeli atau berinvestasi tanah perumahan. Harus teliti dan jeli dalam memilih, bila tidak ingin menyesal dikemudian hari. Pasalnya, Polrestabes Surabaya membongkar kasus penipuan perumahan fiktif berkedok syariah di Sedati Sidoarjo. Kasus itu terjadi di Jalan Raya Kalanganyar, Sedati, Sidoarjo. Sedikitnya ada 32 orang lebih yang menjadi korban, dengan kerugian mencapai ratusan miliar rupiah.

Kombes Pol Sandi Nugroho Kapolrestabes Surabaya mengatakan, perumahan tersebut adalah Multazam Islamic Residence, yang dikelola PT Cahaya Mentari Pratama. Polisi menahan satu pelaku berinisial MS selaku Direktur Utama atau pihak pengelola. Kepada korban, pelaku menjanjikan perumahan itu siap dihuni pada tahun ini. Namun, kenyataannya lokasi yang dijadikan tempat perumahan masih berupa rawa-rawa dan tanah kosong. Bahkan, setelah dicek tanah tersebut ternyata milik orang lain.

“Iya, itu ternyata tanah orang bukan milik tersangka atau PT Cahaya Mentari Pratama. Dari data paguyuban korban perumahan itu, ada 32 orang menjadi korban. Terus ada laporan lain di Polda Jatim dan Polres Sidoarjo, itu belum terdata berapa orang korbannya,” kata Sandi, Senin (6/1). Potensi kerugiannya, cukup besar

Dari empat laporan yang telah ditangani kerugiannya bisa mencapai Rp 3,4 miliar. Bahkan, bisa ditaksir untuk perumahan dengan tipe cluster itu bisa mencapai ratusan miliar. Sandi menambahkan, pihaknya sempat mendatangi kantor pemasarannya di Jalan Rungkut Menanggal. Setelah didatangi, kondisi kantor ternyata sepi.

Sejumlah pegawai yang pernah bekerja disana sudah dipecat dan data-data di komputer terkait pemasaran perumahan itu juga dihapus. Tidak lama kemudian, polisi menangkap MS selaku pihak pengelola. Dari pengakuannya, uang penjualan perumahan ia gunakan untuk kepentingan pribadinya. Polisi mengamankan dua rekening milik tersangka untuk diselidiki lebih lanjut.

Ketua Paguyuban Korban Multazam Islamic Residence, Aris, mengatakan, ada 32 korban kisaran total kerugian mencapai Rp 5,1 miliar. Pihaknya menginginkan uang para korban bisa kembali. Kini ia bersama korban lainnya akan mengawal kasus ini dan berharap pelaku dijerat pasal berlapis. Yakni selain pasal penipuan, juga dijerat pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

“Kami fokus melakukan upaya hukum terhadap tersangka dan berharap agar uangnya kembali ke masyarakat. Kita akan kawal terus kasus ini,” tegas Aris. Saat ini tersangka MS pihak pengelola dijerat Pasal 378 KUHP tentang Penipuan. Dengan ancaman pidana 4 tahun penjara. Namun juga masih dalam penyidikan terkait Pasal lainnya untuk menjerat pelaku. (ton)