Surabaya, (bisnissurabaya.com)
Penipuan berkedok menjual perumahan syariah terus dikembangkan polisi. Karena itu, Polrestabes Surabaya akan memanggil Ustaz Yusuf Mansur (YM). Pemanggilan ustad terkenal ini terkait penipuan perumahan syariah Multazam Islamic Residence sebagai saksi. Pemanggilan dilakukan untuk memintai keterangan terkait peran Yusuf Mansur, sebagai motivator saat diundang pengelolanya.

“Pada saat ekspos 2016 lalu, sempat mengundang Ustaz Yusuf Mansur sebagai motivator. Yang bersangkutan menyatakan, bahwa Multazam itu bagian dari kelompok bisnis yang akan berkembang di Surabaya,” kata Kapolrestabes Surabaya Kombes Sandi Nugroho, di Surabaya Rabu (7/1).
Menurut Sandi, saat ini pihaknya telah berupaya memanggil Yusuf Mansur. Pemanggilan itu dianggap penting karena akan diketahui sejauh mana peran tersangka atau pengelola dalam penipuan yang dilakukannya. “Sampai saat ini, kami akan mencoba menghubungi yang bersangkutan (Ustaz Yusuf Mansur) untuk menggali informasi terkait yang dilakukan tersangka dan perumahan,” jelasnya.

“Kami sedang koordinasikan, mudah-mudahan beliau berkenan hadir untuk diperiksa,” tambahnya. Hal itu berkaitan atas kasus ini, yakni foto-foto Ustaz Yusuf Mansur, sendiri tampak tampil menghiasi brosur-brosur pemasaran perumahan. Brosur itu ditampilkan saat rilis bersama dengan sejumlah barang bukti dan tersangka pengelolanya.

Rentetan kasus ini, setelah Polisi membongkar penipuan berkedok perumahan syariah Multazam Islamic Residence yang dijalankan PT Cahaya Mentari Pratama. Satu orang tersangka selaku direktur utama berinisal MS ditahan. Kapolrestabes Surabaya Kombes Sandi Nugroho mengakui setidaknya ada 32 orang lebih yang menjadi korban perumahan fiktif itu dengan kerugian mencapai ratusan miliar. Sedangkan tanah perumahan yang dijanjikan merupakan tanah orang lain.

“Ternyata tanah orang bukan milik tersangka atau PT Cahaya Mentari Pratama. Dari data paguyuban korban perumahan itu, ada 32 orang menjadi korban. Terus ada laporan lain di Polda Jatim dan Polres Sidoarjo, itu belum terdata berapa orang korbannya,” tandas Sandi ini. (ton)