Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Awal tahun, jajaran Polresta Banyuwangi mendapat kado istimewa. Aksi pembalakan liar yang merugikan negara ratusan juta rupiah dibongkar jajaran Polresta Banyuwangi, Senin (6/1). Enam pelaku ditangkap, sembilan lainnya jadi buron. Dari kasus ini, polisi mengamankan

43 batang kayu gelondongan siap jual, diangkut menggunakan tiga truk. Total kerugian negara mencapai Rp 88 juta.
Para pelaku ditangkap terpisah, peran masing-masing berbeda. Mulai eksekutor, pengangkut hingga penjual. Enam pelaku masing-masing, Miseno (50), warga Dusun Mulyosari, Pesanggaran, Boiman (50), warga Pesanggaran, Saenal (27) warga Siliragung, Imam Muklas (30), warga Desa Grajagan, Purwoharjo, Bagus Febri (24),warga Purwoharjo dan Danarto (37), warga Bangorejo.

“ Ini kasus ilegal logging hasil kerjasama dengan Polhut KPH Banyuwangi Selatan,” kata Kapolresta Banyuwangi Kombespol Arman Asmara Syarifudiin. Selain tiga truk kayu gelondongan, polisi menyita sejumlah barang bukti lain. Diantaranya, sepeda gayung, gerobak, mesin senso dan kapak.
Alat-alat ini yang digunakan para pelaku untuk beraksi. Disita juga, dua truk dan satu kendaraan truk rakitan. Kapolresta menambahkan, para pelaku ditangkap usai menjalankan aksinya pada malam hari. Karena terpojok, pelaku hanya bisa pasrah, lalu digiring ke Mapolresta Banyuwangi. Kepada petugas, para tersangka berdalih nekad membalak hutan produksi itu lantaran terbentur beaya hidup. Kayu gelondongan kemudian dipotong ukuran 4 meter. Dijual rata-rata Rp 400.000 per batang.

“Dari sekian pelaku, masih ada Sembilan yang dimasukkan DPO. Mereka keburu kabur ketika hendak disergap. Tapi, identitasnya sudah dikantongi penyidik,” jelasnya. Penyidik menjerat para tersangka dengan pasal 83 ayat 1 huruf F – B pasal 12 huruf E, UU No.18/2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. Ancamannya 5 tahun penjara.
Menurut Kapolresta, kasus ini terungkap berkat penyelidikan panjang jajaran polisi bersama Polhut KPH Banyuwangi Selatan. Para pelaku beraksi di wilayah hutan produksi milik Perhutani. Sasarannya, menggasak kayu jati produktif yang siap panen. Kini, penyidik masih memburu penadah dari kayu curian tersebut. “Dari pengakuan tersangka, mereka bekerja karena ada pesanan. Berarti, ada penadah. Ini yang kita buru,” pungkas Kapolresta. (wir)