Medan, (bisnissurabaya.com) – Kerjasama hubungan dagang antara Provinsi Jawa Timur/Jatim dengan Sumatera Utara/Sumut tengah disisir untuk dipererat. Terdapat peluang untuk saling mengisi kebutuhan diantara dua provinsi ini.

Untuk kepentingan ini Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, melakukan kunjungan kerja ke Sumut, Jumat – Sabtu (27-28/12). Khofifah bertemu langsung dengan Gubernur Sumut Edy Rahmayadi dan Wakil Gubernur Musa Rajeksha. Kunjungan ini dimaksudkan guna mematangkan rencana penguatan hubungan dagang antara kedua provinsi itu.

Khofifah memaparkan potensi hubungan dagang antara Jatim dengan Sumut saat ini sangat besar. Banyak komoditas dari Jatim yang bisa dikirim ke Sumut guna memasok kebutuhan masyarakat provinsi yang berpenduduk sekitar 15 juta itu. Begitu juga sebaliknya. Ada banyak komoditas dari Sumut yang bisa masuk ke Jatim. Sehingga perlu adanya hubungan dagang yang erat antar kedua provinsi.

“Saat ini Sumut masih impor daging dari Australia. Maka Jatim menawarkan kerjasama training untuk petugas inseminasi buatan dan pemeriksa kebuntingan melalui Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari agar budidaya sapi bisa dikuatkan di Sumut, sehingga bisa menuju swa sembada daging,” kata Khofifah.

 

Pimpinan Pusat Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa Mendapat Cindramatta Pada Acara Pembukaan Rakerwil NU Serta Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1441 H Di Gedung Asrama Haji Medan. (Foto/ist)

Sebagaimana diketahui keberhasilan Jatim dalam mengembangkan inseminasi buatan sudah teruji skala nasional.
Bahkan tahun ini Kementerian Pertanian menunjuk Jatim menjadi tutor bagi provinsi lain di Indonesia yang menjadi produsen sapi potong untuk dilatih pengembangan inseminasi yang baik.

Karena itu, Khofifah, mengatakan, potensi untuk pengembangan inseminasi buatan di Sumut juga bisa dikembangkan bersama BBIB Singosari Jatim baik melalui pelatihan petugas inseminasi buatan dan pemeriksa kebuntingan maupun semen bekunya.

“Yang kedua, Sumut ini punya lahan sawit sangat besar, di sisi lain Jatim punya dolomit yang cukup besar. Nah ini kan ketemu benang merahnya,” ucap Khofifah, bersemangat. Pasalnya pupuk dolomit akan sangat berguna untuk menyuburkan lahan pertanian kelapa sawit.

Selain itu jika dilihat dari neraca perdagangan antara Sumut dengan Jatim, sejauh ini hubungan dagang antar keduanya sebenarnya sudah terjalin produktif. Ke depannya diharapkan lebih besar skalanya.
Diantaranya, untuk komoditas yang dikirim keluar Jatim dan masuk ke Sumut seperti bawang merah, garam, bola lampu, buah mangga, material, mie soun, semen bulk, pupuk, steel plates, dan juga telur ayam.

Sedangkan komoditas yang masuk ke Jatim dan dikirim dari Sumut seperti batu bara, cetakan, konveksi, hasil laut, hewan, crude palm oil, semen dan lain-lain. “Koordinasi yang kami lakukan dengan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut alhamdulillah berjalan baik. Intinya kami terus menyisir bagaimana potensi perdagangan dalam negeri bisa maksimal tergarap. Total penduduk Indonesia saat ini mencapai 268 juta orang, artinya ini potensi pasar yang besar bagi perdagangan dalam negeri yang harus kita garap lebih konkrit,” tegas Khofifah.

Dari hasil koordinasi yang dilakukan, rencananya awal 2020 mendatang, Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, dan Wakil Gubernur Musa Rajeksha, akan berkunjung ke Jatim menindaklanjuti peluang kerjasama perdagangan kedua provinsi.

Selanjutnya juga direncanakan pertemuan teknis Tim Dagang dari Jatim dan Sumut untuk persiapan misi dagang awal 2020 untuk menindaklanjuti dan memaksimalkan hubungan dagang antara kedua provinsi. (sam)