Sidoarjo, (bisnissurabaya.com)- Puluhan aktivis yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sidoarjo kembali unjuk rasa di depan kantor Pemkab Sidoarjo.

Aksi kali sebagai bentuk refleksi akhir tahun kinerja Pemkab Sidoarjo yang dinilai gagal bersinar, karena banyak agenda pembangunan yang belum terealisasikan. Salah satu tuntutan mahsiswa terkait Pembangunan RSUD Wilayah Barat yang harus dibangun dengan APBD, bukan dengan Skema KPBU, masalah kemacetan, pengelolaan sampah, revitalisasi aset dan lain sebagainya.

Koordinator Aksi, Haidar Wahyu, menyampaikan, mengacu pada RPJMD Pemkab Sidoarjo, masih banyak program yang belum diselesaikan. “Sidoarjo memang beberapakali  mendapat penghargaan, tapi kenyataannya masih banyak problem mendasar. Seperti banjir, kemacetan dan kesehatan,” kata Haidar Wahyu, di Sidoarjo senin (30/12).

Ia menambahkan, Pembangunan Frontage Road (FR) dari Waru-Gedangan wajib diselesaikan, karena kemacetan menjadi salah satu akar permasalahan di Sidoarjo.

“APBD Sidoarjo adalah tertinggi ketiga di Jawa Timur/Jatim. Artinya kalau hanya membangun FR dan RSUD saya rasa sangat mampu, ngapain sampai sekarang masih belum selesai,” tegas Haidar.

Aksi aktivis PMII ini ditemui Ainur Rahman, Asisten 1 Pemkab Sidoarjo. pihaknya berjanji akan menyampaikan aspirasi mahasiswa kepada pihak terkait.

“saya sampaikan permohonan bapak bupati dan wabup, karena tidak bisa menemui adik-adik mahasiswa. Tapi saya tetap akan sampaikan apa yang menjadi tuntunan dari mahasiswa,” ucap Ainur, saat menemui mahasiswa di depan kantor Bupati Sidoarjo ini.

Aksi mahasiswa PMII Sidoarjo kali ini tidak menggunakan pengeras suara. Sebab mereka menilai sekeras apapun suara rakyat, bupati tidak pernah mendengarkan suara rakyat. (rin)