Mojokerto, (bisnissurabaya.com)- Figur kharismatik seorang kyai sekaligus pejuang kemerdekaan kembali diperingati. Haul Mbah Ilyas ke-35 tahun 2019, digelar di Ponpes Al Misbar Kecamatan Sooko, Kamis (26/12). Acara haul dihadiri Plt Bupati Mojokerto Pungkasiadi, didampingi OPD dan Forkopimda.

“Tiap tahun kita mengenang dan meneladani perjuangan beliau di jalan agama, keluarga, bangsa dan negara. Semoga seluruh  amalan para sesepuh Ponpes Al-Misbar, para orang tua  dapat menginspirasi kita semua untuk selalu berbuat yang terbaik dalam mengemban amanah,” tutur Plt Bupati Pungkasiadi.

Sedikit menilik histori, masyarakat Kabupaten Mojokerto mengenal sosok Mbah Ilyas sebagai pribadi yang unik. Banyak kisah bertutur tentang Mbah Ilyas yang sering meminta sumbangan, dan memberikan hasilnya pada orang lain.

Orang yang dimintai tersebut akan senang hati memberi, karena setelah memberi mereka mendapat rejeki yang lebih pada hari itu.

Mbah Ilyas juga dikenal memiliki andil luar biasa dalam perjuangan memperebutkan kemerdekaan Indonesia. Pasca keluarnya Resolusi Jihad, gelombang pengiriman pemuda pejuang ke Surabaya dari Mojokerto pada 1945 seperti tak pernah putus.

Para pemuda Mojokerto ini bahkan harus antre menanti giliran berperang di medan pertempuran guna mengusir NICA dari Bumi Pertiwi.

Peran Mbah Ilyas cukup vital. Beliau merupakan salah satu kiai yang menggembleng pasukan Laskar Hizbullah sebelum berangkat ke medan palagan.

Banyak pemuda yang siap tempur usai mendapatkan wejangan dari beliau demi mempertahankan NKRI dari tangan penjajah.

Masyarakat percaya bahwa Mbah Ilyas bisa mengajari seseorang suwuk kebal (ilmu kebal). Suwuk ampuh Mbah Ilyas ini ternyata begitu kondang. Tidak hanya pemuda pejuang yang berasal dari Hizbullah yang datang, melainkan banyak anggota kelompok lain.

Seperti halnya, pejuang BPRI Cabang Mojokerto dan juga para prajurit lainnya. Dengan suwuk itulah timbul keyakinan, jika akan mendapatkan keselamatan dalam pertempuran.

Kontribusi Mbah Ilyas memang luput dari catatan. Namun diakui atau tidak, ilmu suwuk ikut berperan dalam perang kemerdekaan. Jadi sudah sepantasnya  menghargai  yang diberikan Mbah Ilyas dan para kiai kepada bangsa ini.

“Almarhum Mbah KH Ilyas, beliau adalah ulama kharismatik sekaligus orang tua kita. Beliau mendidik para santri, anak cucu dengan penuh kesabaran, penuh integritas serta menjadi sosok yang mengayomi seluruh santri ponpes. Beliau benar-benar figur penuh dedikasi dan teladan. Sikap dan nilai-nilai seperti inilah, harus kita implementasikan dalam kehidupan berkeluarga maupun bermasyarakat,” tandas Plt Bupati Pungkasiadi. (sam)