Surabaya,(bisnissurabaya.com)- Sidang perdana kasus korupsi Sekretaris Daerah (Sekda) Andhy Hendro Wijaya (AHW), diwarnai demonstran warga.

Sidang yang digelar Pengadilan Tipikor Surabaya sempat diwarnai demonstrasi dari puluhan warga Gresik yang tergabung dalam Forum Kota (Forkot) dan Gerakan Pemuda Nusantara (Genpatra) Gresik.

AHW diadili terkait pengembangan pengusutan operasi tangkap tangan (OTT) di Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Gresik dengan terpidana M. Mukhtar yang sudah divonis 4 tahun penjara denda 200 juta subsider 2 bulan dan uang pengganti 1,2 miliar itu.

Sidang perdana yang dipimpin Hakim Ketua Wayan Sosiawan, dan dua hakim anggota Lufsiana dan Kusdarwanto yang berlangsung hampir satu jam tersebut, akhornya dilanjutkan sepekan mendatang dengan agenda pembacaan eksepsi dari terdakwa AHW.

Agenda sidang ini adalah pembacaan dakwaan tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang dipimpin Alifin Nurahmana Wanda. Dalam sidang perdana ini AHW tetap berstatus tidak ditahan.

Dalam dakwaannya, tim JPU menyatakan Andhy Hendro Wijaya (AHW) disangkakan Pasal 12 e dan 12 f UU No. 20 Tahun 2001 Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sementara itu, di luar sidang, Rosidi dari Forkot dan Ali Sandi dari Genpatra menuntut  hakim Pengadilan Tipikor agar meningkatkan status Sekda Gresik dari tahanan kota menjadi tahanan negara di rutan Medaeng.

“Tangkap dan tahan AHW, sebab perbuatan AHW sudah memalukan warga Gresik,” kata Rosidi.

Dalam orasinya, Rosidi berjanji akan mengawal kasus ini hingga tuntas, sedangkan, Ali Sandi dari Genpatra dalam orasinya menuntut agar Gubenur Jatim Khofifah Indarpariwansa menonaktifkan AHW sebagai Sekda Gresik.

Massa dari Genpatra juga percaya Pengadilan Tipikor Surabaya akan memberikan hukuman yang setimpal pada tindak pidana korupsi yang sudah dilakukan Sekda Gresik.

“Terimakasih Pengadilan Tipikor Surabaya, terimakasih Pengadilan Tipikor !. Kami akan datangi KPK dan Kejaksaan Agung supaya AHW ditahan dan dipenjarakan,” ucap Ali Sandi dalam orasinya. (ton)