Natal Sederhana, Damai dan Aman

231

Surabaya (bisnissurabaya.com) BERSYUKURLAH kita, bahwa pelaksanaan acara, upacara dan liburan Natal 25-26 Desember lalu berlangsung aman-aman saja. Baik menjelang sampaipun sesudah Natal 2019 lalu. Sampaipun di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, yang semula menurut kabar angin Pemda dan beberapa kelompok masyarakat setempat melarang dilangsungkannya Natal, ternyata tidak benar. Hari besar buat umat Kristiani itu berlangsung aman dan damai. Sampaipun Menko Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukam) Machfud MD menyatakan, bahwa di Kabupaten tersebut perayaan Natal berlangsung aman-aman saja.

Rasa bersukur itu bukan hanya untuk warga Kristiani di NKRI ini. Akan tetapi untuk seluruh rakyat Indonesia yang menginginkan suasana damai, tidak ada ketegangan dan terlebih bagi kita yang mencintai kesatuan, persatuan dan keberagaman bangsa kita: Bhinneka Tunggal Ika. Slogan yang berasal dari era Kerajaan Majapahit: beraneka ragam tetapi merupakan kesatuan. Slogan Kerajaan Majapahit sebagai Kerajaan Nusantara pada abad 14 itu selengkapnya berbunyi: “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharmma Mangrva” (Berbeda-beda tetapi satu. Tidak ada kebenaran yang bermuka dua).

Kalau dipandang dari aspek sosiologis dan politis, bangsa kita ini sejak dulu kala secara naluriah adalah punya sifat dan sikap untuk hidup dengan rukun, memahami aspek kehidupan masing-masing suku bangsa yang ada, selama tidak dipengaruhi “kekuatan lain” yang dampaknya membawa kebencian dan akhirnya perpecahan. Gambaran yang masih “dekat” dengan kita adalah sejarah tentang keruntuhan Kerajaan Majapahit oleh bangsa dan keluarga sendiri. Ratusan tahun kemudian, kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara ini selanjutnya dikalahkan oleh bangsa-bangsa penjajah asal Portugis, Inggeris dan terbesar adalah Belanda. Juga ada penyebab karena warga atau bangsanya sendiri yang dipengaruhi “kekuatan lain” tersebut.

Beberapa tahun silam, kondisi perayaan Natal dan Tahun Baru selalu dibayang-bayangi oleh ketakutan ditimbulkannya kerusuhan seperti sweeping sampaipun perusakan dan pembunuhan terhadap umat Kristiani di tanah air kita oleh kelompok-kelompok radikalis yang bertindak sebagai teroris. Negara kita mau diarahkan untuk dibuat menjadi negara pertikaian seperti negara-negara dan bangsa di Timur Tengah. Rakyat negara-negara itu ditewaskan dan disengsarakan oleh bangsanya sendiri yang berlangsung hingga kini. Entah sudah berapa ratus ribu bangsa masing-masing negara itu dijadikan cacat fisik dan mental serta menjadi penghuni makam oleh tindakan brutal dan keji bangsanya sendiri dalam kelompok-kelompok yang dipengaruhi oleh agama yang difahamkan menjadi aliran radikalisme dan akhirnya memunculkan terorisme. Seolah itulah saat-saat hari kiamat bagi bangsa-bangsa di kawasan tersebut. Kondisi macam itulah yang semoga tidak akan terjadi. Bersukurlah, di negara kita ini, kondisi kerukunan antar suku dan masing-masing kepercayaan terjaga dan bersatu, meskipun kondisi seperti itu harus dan berkat penjagaan ketat.

Suasana aman dan tenteram itu memang tidak bisa lepas dari kemampuan Pemerintah kita sendiri. Selain memberikan pemahaman penyeimbangan faham dan kearifan, namun juga perlu ketegasan dalam tindakan demi keamanan dan kesejahteraan rakyat kita. Sejak tiga-empat lalu, memang telah dilakukan tindakan tegas, menjadikan siatuasi dna kondisi Republik kita ini mulai berkurang menghadapi terorisme. Karena radikalisme dan terorisme itu terselubung bagaikan bakteri atau virus penyakit di tubuh negara kita, tiba-tiba membuat keterkejutan dan kesedihan, ketika pada Natal 2018, tiba-tiba teroris dari kelompok organisasi teror yang mengaku didasarkan agama Islam dan kelompok teror internasional ISIS bersenjatakan bom bunuh diri secara tiba-tiba menyerbu tiga gereja (satu Gereja Katolik, dua Gereja Kristen) di Surabaya. Jatuhlah seorang korban yang berusaha mencegah para pengebom itu. Tetapi 6 orang pembom bunuh diri betul-betul kesampaian maksudnya, yakni mati bunuh diri, meskipun sasarannya tidak kena, sehingga mungkin menjadi kecewa ketika berada di neraka.

Penggerebekan, penangkapan dan ada yang ditembak mati terhadap teroris di seluruh Indonesia kemudian digiatkan terutama oleh Densus 88 Kepolisian. Tindakan demikian juga dilakukan intensif mendekati Natal tahun ini. Di puncak Pemerintahan, Kabinet Indonesia Maju sekarang, sejak diawali bekerja, menunjukkan sikap tegas dan bila perlu keras oleh pemerintah. Selama hal tersebut berdasarkan ketentuan hukum dan demi kesejahteraan rakyat. Sejarah mencatat, bahwa roda pemerintahan tidak akan berjalan baik, selama aspek aspek ketegasan bertindak tidak dilakukan. Kebijakan berdasarkan kebijaksanaan memang diperlukan oleh pemerintahan kita, namun harus berani bertindak tegas dan keras selama tetap diatas rel hukum.
Pada intinya,syukur suasana di Hari Raya Natal lalu berjalan damai sesuai sloagnnya “damai di hati, damai di dunia”, dan meyakinkan suasana merayakan Tahun Baru 2020 pun harus dijaga: meriah, tetapi harus aman dan tenteram. Selamat Tahun Baru 2020. (amak syariffudin)