Surabaya,(bisnissurabaya.com)- Untuk meningkatkan efisiensi industri perbankan syariah perlu pengoptimalan sumber daya. Karena itu, Bank Umum Syariah (BUS) pada 2023 harus berdiri sendiri atau spin off dari induknya.

Dengan harapan, perbankan syariah bakal tumbuh lebih besar yang memiliki hubungan kepemilikan. Ini untuk memperkuat pasar keuangan syariah karena bisa lebih mandiri, dan bisa kerjasama dengan induknya.

Dengan itu, Otoritas Jasa Keuangan/OJK Kantor Regional 4 (OJKKR 4) Jawa Timur/Jatim mengeluarkan peraturan nomer 28/POJK/23/2019 Tentang Bank Umum Syariah Wajib Spin Off . Peraturan baru ini untuk sinergi perbankan didalam satu kepemilikan untuk pengembangan perbankan syariah.

“Peraturan baru ini sebenarnya merupakan sinergi perbankan syariah,” kata Kepala OJK Regional 4 Jatim, Heru Cahyono, di Surabaya, Jumat (20/12).

Peraturan ini, kata Heru, adalah bertujuan untuk meningkat efisiensi dari bank umum syariah hasil spin off hingga sampai tahun 2023 bagi seluruh bank umum yang memiliki unit usaha syariah. “Mereka harus spin off maksimal 2023,” tandasnya.

Saat ini, bank umum syariah hasil spin off bisa bersaing dengan bank lain, mereka bisa melakukan kerjasama dan sinergi dengan bank induknya. “Dengan harapan mampu meningkatkan daya saingnya dalam memberikan pelayanan kepada nasabah BUS. Serta memperluas akses layanan perbankan syariah bagi masyarakat,” ujarnya.

Bank umum syariah hasil spin off bisa lebih efisien karena mereka bisa menggunakan sumber daya dari bank umum dari  induknya secara bersama sama.

“Tentu kalau ini dilakukan sendiri akan berat dan hal ini dalam rangka untuk meningkatkan efisiensi bank umum syariah hasil spin off maupun untuk meningkatkan daya saing bank umum syariah setelah spin off,” ungkap Heru. (ton)